Senin, 02 Juni 2014

Hooligan Alay



Orang lain atau dunia tidak melihat permainan, seperti cara kita melihat, dan kadang kita harus menyesuaikan diri dengan kenyataan itu.

Sir Alex Ferguson…

Salah satu heroes saya pernah mengutip kalimat itu, dalam biografinya. Kedengaran agak "kalem", jika kita mendengar kalimat itu keluar dari mulut seseorang yang pernah membuat David Beckham mirip seperti aktor film perang diruang ganti pemain, saat darah berlumuran di wajahnya. Well… Siapa yang tidak tahu, epos abad ke 21 saat Ferguson menendang sepatu, kearah David Beckham dan sukses membuat jidat Beckham mengeluarkan darah segar, usai MU dikalahkan Arsenal di round 5 FA Cup . Pecah Ndase, dab. Kalimat itu juga terlalu kalem buat seorang dengan visi permainan yang jelas "menang". Apapun caranya, entah mencetak gol lebih banyak, atau menumpuk pemain sekalipun. Remember... Champions league quarter final musim 2002- 2003 saat bersua  Madrid, lalu bandingkan dengan semifinal second leg saat bertarung dengan Barcelona musim 2007-2008.

Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan. Saya tidak begitu telaten untuk mencatat statistik. penguasaan bola ataupun taktik menyerang dsb dsb. Yang saya mau ceritakan justru filosofi sepakbola dari sang jendaral otoriter bernama Sir Alex Ferguson.

Media boleh saja mencap dia dengan sejuta julukan pemarah yang menunjukan betapa gemarnya kakek satu ini marah2. Kita sama-sama tau dengan  hairdreyer treatment, pendekatan galak ala opa SAF yang merujuk kepada situasi ruang ganti yang mencekam, ketika pemain dimarahi saat tim  kalah atau bermain buruk (belakangan sudah tdiak terlalu sering dipakai). Tapi dibalik galaknya, kebijaksanaan-nya sebagai seroang bapak dan sifat pedulinya sudah bukan rahasia (baca autobiografi-nya dan kita akan sadar kemanusiaan seorang Ferguson, lebih dari sekedar kalah dan menang dalam sepakbola. Dan… seorang Ferguson, manager otoriter dengan koleksi gelar yang segudang, “mengijinkan” filosofi yang berbeda tentang sepakbola, dan menghargai tentang perbedaan dalam dunia sepakbola.

Sudah… 

Kemudian mari kita tonton sejenak, kelakuan para hooligan alay di media sosial beberapa hari belakangan saat kata-kata kampungan kebun binatang muncul di media sosial, untuk mengjek sebuah tim sepakbola atau plesetan-plesetan menggelikan muncul di media sosial seperti Bancilona dsb dsb. Dan… Saya yakin mereka bahkan tidak punya “pengakuan” sebagai expert sepakbola.

Eniwei... gaya bermain banci itulah yang disadur dan diapalikasikan menjadi dasar permaianan kelas dunia bermuara dua gelar liga champion, satu piala dunia dan dua piala eropa dan memberi pesan bahwa sekumpulan kurcaci memiliki kekuatan menghadang fisik-fisik besar pemain Eropa. Menurut saya (sekali lagi menurut saya) gaya bermain spanyol mirip dengan apa yang diaplikasikan oleh Barca. Setidaknya mayoritas lini tengah Timnas Spanyol diisi oleh beberapa maestro Barca, walaupun kita sama-sama tau gaya bermain yang sudah mulai membosankan ini akhirnya mulai pudar, tapi setidaknya siapapun akan mengingat gaya bermain ini dikala taktik-taktik lain bermunculan.

Oh iya maafkan saya jika terkesan agak sarkas. Saya tidak akan meributkan saat seseorang bercuap-cuap bahkan mencela sebuah permainan jika orang tersebut mempunyai “pengakuan” bahwa dia mengetahui sedikit banyak tentang sepakbola. Ambil contoh seorang pelatih, pemain bola, pundit ataupun wartawan olahraga. Bagi saya mereka mendapat pengakuan, karena tampil di televisi ataupun menulis artikel di media-media olahraga (walaupun mungkin untuk sebagian orang ukuran itu tidaklah cukup). Nah ini… kalau yang ribut cuman hooligan alay, tanpa sebuah karya dan “pengakuan”. aihmakkkk siapa elo?.

Mungkin buat beberapa orang itu hal yang wajar, tapi menurut saya segala kewajaran toh tetap ada batasnya bukan, tetap ada dinding tertentu yang akhirnya memisahkan antara guyonan semata atau, sudah sampe tahap saling mencela. 

Cukup...

Sekali lagi saya tidak terlalu telaten memperhatikan statistik untuk  menganalisis tentang taktik sepakbola. Deskripsi saya tentang olahraga ini cukup dengan bagaimana saya memaknai sepakbola sebagai sebuah persahabatan. Dan sudah seharusnya persahabatan tidak dinodai dengan ucapan-ucapan kampungan kelas payah ala holigan alay seperti itu. Dalam bersahabat bercanda perlu untuk kekaraban, lebih dari itu yah gitulah.

Betapa gelinya saya bangun disuatu pagi dan box coment salah satu media sosial sampe menyentuh angka 100 dengan hanya berisi adu makian para suporter kacau tadi. Cara pandang sepakbola, berbeda satu sama lain. Gaya bermain, strategi dan taktik punya keindahan sendiri-sendiri untuk disaksikan. Disinilah tugas kita sebagai pencinta sepakbola, untuk menikmatinya. Kalau anda tidak, setuju cukuplah menyesuaikan tanpa perlu adu makian sampai adu jotos. Jangan memaksa-lah satu sama lain.

Serius saya pernah menyaksikan dua kelompok suporter berantem dalam sebuah acara nobar. Well... kampungan abes, tapi yang lebih kampret tawuran itu sukses membuat saya rugi Rp 15.000 karena nobarnya harus bayar, lalu kemudian dihentikan karena adegan berantem itu. Waktu itu perkelahian dimulai saat gol Raphael Varane menjadi gol semata wayang, di El Clasico (lupa edisi keberapa). Geli... justru saat pemain dari kedua tim bersalaman tanda respect yang tinggi, kita yang bahkan terpisah jauh dari benua eropa tanpa ikatan apa-apa, sibuk adu jotos. Memang ada ketegangan saat pertandingan berlangsung, tapi jabat tangan sebagai tanda persahabatan tetap menjadi tradisi luar biasa diakhir pertandingan.

Tapi yah dasarnya olahraga universal yah, bahkan mereka yang kampungan-pun punya hak buat menyuarakan dengan makian ataupun pukulan, yah gimana lagi, mau apa lagi memang dasarnya keterbatasan ruang berpikir (baca : bloon) menyebabkan fanatisme cetek seperti itu.

Yah sudahlah...

Trus ngapain saya nulis ini pagi-pagi, di wc pake smartphone pulak, trus....

Ahhhhh...


Usai Selebrasi Juara La Decima mengakhiri musim liga-liga Eropa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise