Minggu, 31 Agustus 2014

Dear You #Lovely...




Dear you...

Sesungguhnya aku mulai menulis ini dengan setengah menangis di sudut salah satu kafe di Bandara Sultan Hasanudin.

Entah apa yang ada dalam pikiran mereka lelaki berbadan besar dengan brewok yang agak lebat sesekali menyeka air mata tipis (yang sesungguhnya baru saja kutumpahkan dengan hebat dikamar mandi pesawat).

Enam hari terasa singkat yah, iya aku bahkan belum sempat berbagi cerita dengan adik-adik di Suprau seperti yang aku impikan dulu.

Ahhh sudahlah...

Kita cuman manusia, tidak ada kata puas bagi hasrat homo sapiens yang tak pernah mengenal kata cukup.
Lalu aku ingat-ingat lagi 6 hari bahagia yang baru saja kita lewati enam hari yang baru saja kita jalani untuk saling berbagi, sebelum akhirnya waktu juga yang memaksa kita untuk kembali ke dunia nyata.

Pagi itu saat baru saja tiba, aku setengah celingukan mencari kamu diantara para penjemput. Dan... Terjawab sudah kebingunganku.

"Su sampe kah, ketiduran aaaa"

Aku cuman tersenyum simpul setengah gemas membaca pesan singkat kamu itu, sambil membayangkan muka bantal yang ingin kucubit sepuasnya.

Sembari menunggu barang bawaan yang sedang diantar dari bagasi aku sudah menyusun reaksiku menyambut kamu. Waktu itu, kalau kamu berpikir betapa hangatnya tatapan atau romantisnya genggaman tanganku, aku bahkan sudah berlatih terlebih dulu, Jangan ketawa, remember apa yang bisa diharapkan dari orang yang bahkan say Love You dan Sayang saja harus berlatih berulang kali.

Lalu munculah kamu dengan diujung bandara dengan kaos hijau bertuliskan “YES” yang selama ini sering aku ceritakan tentang angan-angan untuk mengucapkan cinta dan dijawab dengan kaos itu.

Canggung yah... iya... tapi aku tak peduli secepat mungkin kugenggam tanganmu dan seketika merasa nyaman. Waktu itu, aku sengaja mengulur-ulur waktu supaya bisa lebih lama. Kamu pasti merasa aneh diantara mata yang sayu karena menahan ngantuk semalaman aku masih saja mencari-cari alasan saat diajak ke rumah Kak Anis, iya itu modus.

Kemudian dengan setengah mengantuk siang itu aku menepati janji menemani kamu mengunjungi kerabat. Ahhh sebenarny aku-pun sudah lama merindukan tradisi cari kaleng itu.

First day... Dan kamu sudah mengajaku menikmati sorong dari ujung ke ujung. Dari pemandangan pantai yang aduhai sampi gunung-gunung yang harus dilewati dengan kewaspadaan penuh. Aku rindu dengan pemandangan ini, disana hanya gedung-gedung pencakar langit dan tingginya jalan layang yang kulewati setiap hari. Iya... ndeso bin katrok, aku lebih nyaman melihat kota pesisir yang masih menyajikan pemandangan gunung dan laut, ketimbang gedung bertingkat dan mall.

Ingat tidak, kamu bahkan langsung menepati janjimu, "besok-besok kalau pas lagi jalan, sa ketiduran jangan kaget yah".Setelah kegirangan memotret langit sore, tiba-tiba kamu sudah tidak menyahut saat kupanggil, sambil setengah menengok ahhh... Kamu sudah mulai nyenyak dijok belakang motor, kebingungan dan takut sembari memegang kedua tanganmu aku mengejar rombongan yang mulai jauh. diantara rasa was-was sebenarnya aku menikmati momen itu. Kapan lagi dipeluk tanpa toki. Seharian itu saja sudah tak terhitung berapa kali tanganmu mampir di pipi dan kepala saat berusaha kupeluk. Iya... modus, lagi.

Lalu mulailah komedi aneh saat aku berusaha mereka ulang untuk “menembak” hahahaha. Serasa jadi anak SMA hari itu. Setengah mengantuk dan sesekali tertidur kamu menjawab sambil tertawa-tawa. Iya... sore itu kita sama-sama berusaha menepati janji masing-masing.

Sayang...

Aku rindu berbaring dipangkuanmu, sambil sesekali menatap mata kamu diantara kantuk yang menyerang. Iya... jujur saja selama disana, aku jarang tidur dimalam hari, rasa ingin cepat bertemu lagi diesok hari dan ingin menikmati hari yang lebih panjang di Sorong jadi alasannya, aku merasa tidur menjadi aktifitas yang hanya memotong waktu. Aku ingin terjaga selama mungkin agar merasa waktu tidak begitu cepat berlalu

Kamu... sambil sesekali menepuk-nepuk pipi, sambil sesekali memegang rambut, kadang-kadang sambil mencubit hidung kamu pasti bilang "ini brewoknya dirapiin". Aku tau kamu keram iya bobot 80 kg pasti sukses membuat peredaran tidak lancar dikedua pangkal pahamu, tetapi layaknya orang sabar kamu hanya berbisik pelan "bangun dulu" sembari membiarkan rasa kesemutan hilang kamu setengah menggeruutu, bahhhh berat sampe  tanpa peduli setelah itu aku lanjutkan lagi tidur di tempat ternyaman didunia bagiku. Saatnya kelak saat jarak tidak lagi menjadi pemisah, jangan kaget aku sering sekali melakukan itu.

Oh iya Sunset...

Menghabiskan waktu menjelang gelap semacam ritual wajib yang tak pernah kita lewatkan. Batere hape serasa dua kali lebih cepat drop dari biasanya, fitur kamera dihapemu dan hapeku seakan tidak berhenti bernafas untuk melaksanakan tugasnya mengabadikan momen yang sebenarnya sama-sama tidak ingin kita sudahi.

Kadang diantara momen-momen kecantikan alam itu, aku tak takut dan malu bercerita tentang keanehan tentang aib dan apa saja yang kusimpan rapat-rapat. Terima Kasih... sudah menjadi pendengar yang baik.

Terima kasih buat jalan-jalan siang dijalan mendaki...

Sembari sesekali mengingatkan untuk menepi karena ada kendaraan,kamu mendorongku dari belakang karena sadar aku sudah mulai kehabisan nafas. Sembari sesekali berhenti, karena aku mulai kehabisan nafas kamu berikan senyum manis melap keringat sambil berbicara "sudah mau sampai kog". Sembari kau rapikan kaos yang sesekali tersingkap. kamu menepuk2 perut sambil bilang "biar kurus".

Aku akan selalu merindukan momen itu semua, selalu. Tangan lembutmu, saat merapikan rambut yang lebih mirip sapu ijuk, saat merapikan bajuku yang tersingkap (iya aku cuek banget ya sama penampilan) atau saat menepuk-nepuk pipi.

Aku akan selalu merindukan saat-saat bisa berbaring di kedua pangkuanmu atau sekedar menyadarkan kepala di  bahmu dan menghirup aroma Pariz Hilton yang kamu pakai. Ahhh apa saja yang aku lakukan bersamamu akan selalu kurindukan.

Dear You #Lovely...

I Already Miss You...


Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise