Dear
you...
Sesungguhnya
aku mulai menulis ini dengan setengah menangis di sudut salah satu kafe di
Bandara Sultan Hasanudin.
Entah
apa yang ada dalam pikiran mereka lelaki berbadan besar dengan brewok yang agak
lebat sesekali menyeka air mata tipis (yang sesungguhnya baru saja kutumpahkan
dengan hebat dikamar mandi pesawat).
Enam
hari terasa singkat yah, iya aku bahkan belum sempat berbagi cerita dengan
adik-adik di Suprau seperti yang aku impikan dulu.
Ahhh
sudahlah...
Kita
cuman manusia, tidak ada kata puas bagi hasrat homo sapiens yang tak pernah
mengenal kata cukup.
Lalu
aku ingat-ingat lagi 6 hari bahagia yang baru saja kita lewati enam hari yang
baru saja kita jalani untuk saling berbagi, sebelum akhirnya waktu juga yang
memaksa kita untuk kembali ke dunia nyata.
Pagi
itu saat baru saja tiba, aku setengah celingukan mencari kamu diantara para
penjemput. Dan... Terjawab sudah kebingunganku.
"Su
sampe kah, ketiduran aaaa"
Aku
cuman tersenyum simpul setengah gemas membaca pesan singkat kamu itu, sambil
membayangkan muka bantal yang ingin kucubit sepuasnya.
Sembari
menunggu barang bawaan yang sedang diantar dari bagasi aku sudah menyusun
reaksiku menyambut kamu. Waktu itu, kalau kamu berpikir betapa hangatnya
tatapan atau romantisnya genggaman tanganku, aku bahkan sudah berlatih terlebih
dulu, Jangan ketawa, remember apa yang bisa diharapkan dari orang yang bahkan
say Love You dan Sayang saja harus berlatih berulang kali.
Lalu
munculah kamu dengan diujung bandara dengan kaos hijau bertuliskan “YES” yang
selama ini sering aku ceritakan tentang angan-angan untuk mengucapkan cinta dan
dijawab dengan kaos itu.
Canggung
yah... iya... tapi aku tak peduli secepat mungkin kugenggam tanganmu dan
seketika merasa nyaman. Waktu itu, aku sengaja mengulur-ulur waktu supaya bisa
lebih lama. Kamu pasti merasa aneh diantara mata yang sayu karena menahan
ngantuk semalaman aku masih saja mencari-cari alasan saat diajak ke rumah Kak
Anis, iya itu modus.
Kemudian
dengan setengah mengantuk siang itu aku menepati janji menemani kamu
mengunjungi kerabat. Ahhh sebenarny aku-pun sudah lama merindukan tradisi cari
kaleng itu.
First
day... Dan kamu sudah mengajaku menikmati sorong dari ujung ke ujung. Dari
pemandangan pantai yang aduhai sampi gunung-gunung yang harus dilewati dengan
kewaspadaan penuh. Aku rindu dengan pemandangan ini, disana hanya gedung-gedung
pencakar langit dan tingginya jalan layang yang kulewati setiap hari. Iya...
ndeso bin katrok, aku lebih nyaman melihat kota pesisir yang masih menyajikan
pemandangan gunung dan laut, ketimbang gedung bertingkat dan mall.
Ingat
tidak, kamu bahkan langsung menepati janjimu, "besok-besok kalau pas lagi
jalan, sa ketiduran jangan kaget yah".Setelah kegirangan memotret langit
sore, tiba-tiba kamu sudah tidak menyahut saat kupanggil, sambil setengah
menengok ahhh... Kamu sudah mulai nyenyak dijok belakang motor, kebingungan dan
takut sembari memegang kedua tanganmu aku mengejar rombongan yang mulai jauh.
diantara rasa was-was sebenarnya aku menikmati momen itu. Kapan lagi dipeluk
tanpa toki. Seharian itu saja sudah tak terhitung berapa kali tanganmu mampir
di pipi dan kepala saat berusaha kupeluk. Iya... modus, lagi.
Lalu
mulailah komedi aneh saat aku berusaha mereka ulang untuk “menembak” hahahaha.
Serasa jadi anak SMA hari itu. Setengah mengantuk dan sesekali tertidur kamu
menjawab sambil tertawa-tawa. Iya...
sore itu kita sama-sama berusaha menepati janji masing-masing.
Sayang...
Aku
rindu berbaring dipangkuanmu, sambil sesekali menatap mata kamu diantara kantuk
yang menyerang. Iya... jujur saja selama disana, aku jarang tidur dimalam hari,
rasa ingin cepat bertemu lagi diesok hari dan ingin menikmati hari yang lebih
panjang di Sorong jadi alasannya, aku merasa tidur menjadi aktifitas yang hanya
memotong waktu. Aku ingin terjaga selama mungkin agar merasa waktu tidak begitu
cepat berlalu
Kamu...
sambil sesekali menepuk-nepuk pipi, sambil sesekali memegang rambut,
kadang-kadang sambil mencubit hidung kamu pasti bilang "ini brewoknya
dirapiin". Aku tau kamu keram iya bobot 80 kg pasti sukses membuat
peredaran tidak lancar dikedua pangkal pahamu, tetapi layaknya orang sabar kamu
hanya berbisik pelan "bangun dulu" sembari membiarkan rasa kesemutan
hilang kamu setengah menggeruutu, bahhhh berat sampe tanpa peduli setelah itu aku lanjutkan lagi
tidur di tempat ternyaman didunia bagiku. Saatnya kelak saat jarak tidak lagi
menjadi pemisah, jangan kaget aku sering sekali melakukan itu.
Oh
iya Sunset...
Menghabiskan
waktu menjelang gelap semacam ritual wajib yang tak pernah kita lewatkan.
Batere hape serasa dua kali lebih cepat drop dari biasanya, fitur kamera
dihapemu dan hapeku seakan tidak berhenti bernafas untuk melaksanakan tugasnya
mengabadikan momen yang sebenarnya sama-sama tidak ingin kita sudahi.
Kadang
diantara momen-momen kecantikan alam itu, aku tak takut dan malu bercerita
tentang keanehan tentang aib dan apa saja yang kusimpan rapat-rapat. Terima
Kasih... sudah menjadi pendengar yang baik.
Terima
kasih buat jalan-jalan siang dijalan mendaki...
Sembari
sesekali mengingatkan untuk menepi karena ada kendaraan,kamu mendorongku dari
belakang karena sadar aku sudah mulai kehabisan nafas. Sembari sesekali
berhenti, karena aku mulai kehabisan nafas kamu berikan senyum manis melap
keringat sambil berbicara "sudah mau sampai kog". Sembari kau rapikan
kaos yang sesekali tersingkap. kamu menepuk2 perut sambil bilang "biar
kurus".
Aku
akan selalu merindukan momen itu semua, selalu. Tangan lembutmu, saat merapikan
rambut yang lebih mirip sapu ijuk, saat merapikan bajuku yang tersingkap (iya
aku cuek banget ya sama penampilan) atau saat menepuk-nepuk pipi.
Aku
akan selalu merindukan saat-saat bisa berbaring di kedua pangkuanmu atau
sekedar menyadarkan kepala di bahmu dan
menghirup aroma Pariz Hilton yang kamu pakai. Ahhh apa saja yang aku lakukan
bersamamu akan selalu kurindukan.
Dear
You #Lovely...
I
Already Miss You...
