![]() |
| Taken from http://wallpoper.com/wallpaper/battery-empty-29286 |
Al-kalaf...
Aku terduduk menahahan getir, pahit dan kehancuran yang
dengan terpaksa kusaksikan sendiri, semuanya nyata didepan mata. Semuanya
hancur remuk dihantam ladam, lalu hilang dan kosong, habis.
Apa yang bisa kulakukan, saat jarak begitu semena-mena
menginjak-injak harapanku bertemu dan menenangkan resah, menenangkan rindu yang
meronta-ronta atau sekedar hadir untuk mengobati rasa jenuh dengan hubungan
seperti ini, hubungan yang terlalu berat untuk dijalani hanya lewat sepersekian
karakter media chat atau sebuah alat komunikasi trademark Alexander Graham Bell
bernama telepon.
"It's just a past" katamu...
Itu bagimu, lalu bagaimana denganku, saat semua yang
kuperjuangkan adalah kamu, masa depanku. Lewat tiap doa lewat tiap usaha yang
mungkin tidak terlihat jelas apakah aku benar-benar berusaha, sampai akhirnya
kamu tidak lagi menemukan "alasan berbahagia" dalam wujud manusia
rapuh ini. Bahagia itu pilihan begitupun saat kita memilih untuk tidak berbahagia.
Mungkin segalanya menjadi mudah bagiku karena darimu kutemukan sejuta alasan
berbahagia yang selalu menyemangatiku, sementara aku tak punya itu, alasanmu
untuk berbahagia
"Cinta itu rapuh, yang bisa kita lakukan hanya
berusaha agar benda yang rapuh ini tidak rusak, saat kita berusaha menjaganya"
Begitu kata Steve Miller yang diperankan oleh Greg Kinnear
dalam sebuah sinematografis Hollywood karya Juliane Ann Robinson lewat filmnya
berjudul "The Last Song's", saat Milley Cyrus belum seliar saat ini.
Mungkin aku gagal menjaga benda rapuh itu...
Maafkan tiap kealpaan saat diriku benar-benar kamu
butuhkan. Buat semua pelukan hangat yang paling mewah hanya kutitipkan lewat doa,
atau gandengan tangan menjaga, yang paling nyata hanya bisa kukirimkan lewat
karakter chat atau media sosial.
Dan untuk segala rasa sakit dan kosong yang tersisa aku tak
punya cara lain selain mensyukurinya, seberat apapun itu. Pasti ada pelajaran ditiap
luka, dan saat ini aku diajarkan melirih perih untuk luka ini, karena (saat
ini) tak ada yang dapat kupelajari selain sakit yang terlalu. Entah nanti,
entah kapan aku bisa dengan dewasa memahami luka.
Al-kalaf...
Cobalah berdamai denga keadaan...
Kita hanya manusia yang ditakdirkan untuk belajar dari rasa
sakit, beranjak dari rasa sakit yang satu ke rasa sakit lainya, sampai-sampai
terkadang kita lupa cara berbicara, untuk mengungkapkan rasa pedih, karena
bahasa natural manusia adalah "menangis". Berikutnya hanya ada bahasa
kekanak-kanakan yang terlampau tidak masuk akal untuk logika orang dewasa.
Saat dadamu sesak, apalagi yang bisa kau lakukan selain
menangis lalu kemudian berpikir singkat dan mengucapkan kata yang terlintas.
Seperti saat itu saat ucapan anak TK-ku membuatmu murka dan marah besar, saat
kamu memintaku meninggalkanmu, "membohongi diri dan perasaan.
Kita belajar menjadi sebenar-benarnya manusia saat tergugu
menahan getir, dan sadar bahwa kita hanya sekumpulan daging berbalut kulit yang
terlalu rapuh untuk menahan sakit.
Saat itu datang akan ada pesan "indah pada
waktunya" atas nama remeh temeh atau sekedar empati singkat yang tak
benar-benar jujur dari sebagian kecil manusia yang memaksa bersimpati, yang
sebenarnya tak benar-benar ingin berbagi (sebagian... Terima kasih buat semua
sahabat yang dengan segala ketulusannya mendengar cerita cengeng ini). Lalu
semua itu hanya air liur yang kita telan untuk melawan dahaga yang teramat
sangat.
Al-Kalaf...
Akhirnya lewat rasa sakit, kita diingatkan untuk menjadi
sebenar-benarnya manusia yang tak mampu dan tak akan pernah mampu melawan hukum
alam.
Homo sapiens hanyalah mahkluk rapuh yang berkeliaran dimuka
bumi
I'm going home back to the place where I belong
And where you're love has always been enough for me
I'm not running from i think you got me all wrong
I don't regret this live is chose for me
Daughtry-Home
Pantai Kupang, Jayapura 2 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar