Stasiun swasta dengan lambang burung rajawali itu harus bertanggung jawab atas degradasi profesi “Chef”. Sekarang dedek-dedek
gemez yang habis menggoreng tahu pakai minyak jelantah bekas, sudah punya hak
buat memposting namanya dengen embel-embel “chef”, Tahu Sumedang ala chef
Arianti Ingin dicintai selalu (Arianti Ingin dicintai selalu nama orang,
silahkan percaya atau tidak).
Berkat
acaranya Franc Roddam, yang diIndonesiakan, itulah sekumpulan manusia itu jadi merasa Chef adalah
sebuah profesi icik kiwil, yang mudah
didapat setelah menggoreng tahu, tanpa peduli seberapa maksimal proses
fermentasi makanan teresbut (well memang ada yang peduli?). Sebentar, sejenak saya
membayangkan Gordon Ramsay atau Christina Tosi dengan sedihnya meratapi CV
masaknya yang sekarang banyak disaingi dedek dedek gemez itu, yah menggelikan
bin menyedihkan.
Memang
tidak perlu pendidikan khusus untuk mendapatkan gelar chef, bahkan buk’e kita yang sakbendino bertugas menjadi menteri kesejahteraan perut
keluarga-pun punya hak menyandangnya, karena selain bertugas memasak kadang ibuk-ibuk itu punya cara kreatif membuat masakan baru, menyesuaikan budget rumah tangga dan kenaikan harga bahan pokok dipasar.
Akan tetapi menurut hemat saya (supaya
terkesan resmi) yang memang kurang piknik ini, agak menggelikan jika fenomena
wagu ini bertebaran dimedia sosial. Bahkan mogul kuliner Indonesia sekelas Bondan Winarno-pun menolak dipanggil chef, karena sadar beratnya embel-embel itu, atau
salah satu rockstar kuliner Indonesia Rahung Nasution yang dalam salah satu
wawancaranya pernah bilang ” sebutan chef hanya layak
disematkan kepada orang-orang yang bisa membuat kreasi menu makanan baru, bukan
cuma membaca resep atau memasak makanan yang sudah menjadi tradisi”
Menurut
sejuta refrensi buku saya, ehemmmm maksudnya hasil googling, (yah kita hidup
dimana mbah ini jauh lebih hebat dari ensiklopedia yang volumenya cukup untuk
digetok dan membuat amnesia), chef berasal dari serapan bahasa negaranya Samir
Nasri sana, dari kata “chief”, yang artinya pemimpin. Dalam hal ini tentu saja
pemimpin di dapur. Jangan tanya kenapa harus bahasa dari sana yang diserap Buat
kami golongan “kelaparan” yang hanya bisa membedakan makanan kedalam dua
kategori “enak dan enak banget”
yang jelas makanan dengan harga
terjangkau lebih dari cukup lah ketimbang pengen tau kenapa harus bahasa Perancis yang diserap dalam tata kuliner dunia, bukan Sierra Leone misalnya.
Maka
dengan berat hati dalam opini saya sebagai kelompok pengunyah segala yang
kurang piknik ini, akan sangat terlihat wagu kalau dengan memasak saja tanpa
memimpin sebuah tim dapur, segelintir manusia disekitar kita merasa punya hak
buat nambahin embel-embel chef, setelah masak tahu sumedang tadi.
Ahhh sudahlah ceph, tahu-tahu dia sendiri, wajan
dan media sosial serta paket data untuk memposting itu juga punya mereka sendiri
maka toh juga gag ngrasani kamu.
Aihhhh mungkin saya hanya insan manusia
yang kebanyakan waktu selo, sampai-sampai perlu bercerita panjang lebar tentang
fenomena, wagu ini. Toh pendapat saya
yang keliatan seperti orang patah hati yang kurang piknik ini memang terkesan ngehek dan agak kurang kerjaan dan sangat tidak dapat dipertanggungjawabkan kajian teoritisnya, Matamu leee.
Tapi sebagaimana
mereka punya hak memposting karya chef-chefannya itu saya juga punya hak dong
buat ikut debat kusir tentang “pantas tidaknya” embel-embel chef itu ada. Laptop
buat mengetik juga laptop saya sendiri (dikasih kantor sich) dan paket data
juga punya saya sendiri (ini juga pakai fasilitas internet kantor sich). Saya cuman
berusaha membagikan kejujuran intelektual saya, ngooook.
Salam...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar