Jumat, 09 Oktober 2015

Fenomena Wagu Chef-Chefan



Stasiun swasta dengan lambang burung rajawali itu harus bertanggung jawab atas degradasi profesi “Chef”. Sekarang dedek-dedek gemez yang habis menggoreng tahu pakai minyak jelantah bekas, sudah punya hak buat memposting namanya dengen embel-embel “chef”, Tahu Sumedang ala chef Arianti Ingin dicintai selalu (Arianti Ingin dicintai selalu nama orang, silahkan percaya atau tidak).

Berkat acaranya Franc Roddam, yang diIndonesiakan, itulah sekumpulan manusia itu jadi merasa Chef adalah sebuah profesi icik kiwil, yang mudah didapat setelah menggoreng tahu, tanpa peduli seberapa maksimal proses fermentasi makanan teresbut (well memang ada yang peduli?). Sebentar, sejenak saya membayangkan Gordon Ramsay atau Christina Tosi dengan sedihnya meratapi CV masaknya yang sekarang banyak disaingi dedek dedek gemez itu, yah menggelikan bin menyedihkan.

Memang tidak perlu pendidikan khusus untuk mendapatkan gelar chef, bahkan buk’e kita yang sakbendino bertugas menjadi menteri kesejahteraan perut keluarga-pun punya hak menyandangnya, karena selain bertugas memasak kadang ibuk-ibuk itu punya cara kreatif membuat masakan baru, menyesuaikan budget rumah tangga dan kenaikan harga bahan pokok dipasar.

Akan tetapi menurut hemat saya (supaya terkesan resmi) yang memang kurang piknik ini, agak menggelikan jika fenomena wagu ini bertebaran dimedia sosial. Bahkan mogul kuliner Indonesia sekelas Bondan Winarno-pun menolak dipanggil chef, karena sadar beratnya embel-embel itu, atau salah satu rockstar kuliner Indonesia Rahung Nasution yang dalam salah satu wawancaranya  pernah bilang ” sebutan chef hanya layak disematkan kepada orang-orang yang bisa membuat kreasi menu makanan baru, bukan cuma membaca resep atau memasak makanan yang sudah menjadi tradisi”

Menurut sejuta refrensi buku saya, ehemmmm maksudnya hasil googling, (yah kita hidup dimana mbah ini jauh lebih hebat dari ensiklopedia yang volumenya cukup untuk digetok dan membuat amnesia), chef berasal dari serapan bahasa negaranya Samir Nasri sana, dari kata “chief”, yang artinya pemimpin. Dalam hal ini tentu saja pemimpin di dapur. Jangan tanya kenapa harus bahasa dari sana yang diserap Buat kami golongan “kelaparan” yang hanya bisa membedakan makanan kedalam dua kategori “enak dan enak banget”  yang  jelas makanan dengan harga terjangkau lebih dari cukup lah ketimbang pengen tau kenapa harus bahasa Perancis yang diserap dalam tata kuliner dunia, bukan Sierra Leone misalnya.

Maka dengan berat hati dalam opini  saya sebagai kelompok pengunyah segala yang kurang piknik ini, akan sangat terlihat wagu kalau dengan memasak saja tanpa memimpin sebuah tim dapur, segelintir manusia disekitar kita merasa punya hak buat nambahin embel-embel chef, setelah masak tahu sumedang tadi. 

Ahhh sudahlah ceph, tahu-tahu dia sendiri, wajan dan media sosial serta paket data untuk memposting itu juga punya mereka sendiri maka toh juga gag ngrasani kamu.

Aihhhh mungkin saya hanya insan manusia yang kebanyakan waktu selo, sampai-sampai perlu bercerita panjang lebar tentang fenomena, wagu ini. Toh pendapat saya yang keliatan seperti orang patah hati yang kurang piknik ini memang terkesan ngehek dan agak kurang kerjaan dan sangat tidak dapat dipertanggungjawabkan kajian teoritisnya, Matamu leee.

Tapi sebagaimana mereka punya hak memposting karya chef-chefannya itu saya juga punya hak dong buat ikut debat kusir tentang “pantas tidaknya” embel-embel chef itu ada. Laptop buat mengetik juga laptop saya sendiri (dikasih kantor sich) dan paket data juga punya saya sendiri (ini juga pakai fasilitas internet kantor sich). Saya cuman berusaha membagikan kejujuran intelektual saya, ngooook.


Salam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise