Senin, 13 April 2015

Untuk Pak Rudiantara Tercinta...



picture taken from http://memegenerator.net/instance/50064214
Pagi Bapak...


Ini surat kedua saya untuk mentri di kabinet kerja, bapak. Bukan berarti saya begitu alerginya dengan pemerintahan edisi ini, sampai-sampai menulis surat lagi untuk mengkritisi para mentri. Tidak bapak, tidak sama sekali. Saya bukan bagian dari dua kutub yang agak menyedihkan, yang bersuara seakan-akan calon presiden mereka adalah Tuhan, saat masa kampanye lalu (Bahkan sampai sekarang-pun masih ada).


Saya hanya ingin bercerita dan berbagi tentang kegelisahan saya. Iya... benar-benar gelisah. Sekalipun bapak bukan orang politik, tapi saya yakin bapak juga bisa merasa gerah dengan cerita-cerita politik yang makin ramai di Indonesia. Jadi atas dasar pertimbangan itu biarkan saya bercerita tentang hal lainya saja, toh juga saya tidak mahir berbicara tentang politik. Bercerita tentang politik hanya membuat saya mual dan pusing nantinya. Iya... saya memang menyedihkan, saat anak muda dituntut melek politik, saya masih saja kesusahan memahami topik ini. Lagipula, tugas bapak khan mengurusi hal-hal yang berkaitan tentang komunikasi dan informasi, cerita tentang politik biar jadi urusan bapak Tedjo Edhi Purdjianto (kalau saya sudah tidak pusing-pusing dan mual). 


Oh iya saya tidak begitu paham tentang dua hewan yang saat ini jadi primadona (lagi), cicak dan buaya. Tapi apa yang mau saya ceritakan juga tentang hewan, yang sedang marak dipertelevisian Indonesia. Kalau dibandingkan dengan dua hewan tadi,  saya berpendapat hewan ini cukup, dibilang sangar. Serigala. Atas nama kejantanan dan machois hewan ini cukup mengerikan saat dibayangkan dan tentunya sangar nian saat disebutkan.


Kita memang hidup di negara tropis, negara dimana Jacob Black dan saudara-saudaranya tidak dapat hidup disini, tapi rasanya tidak perlu melihatnya secara langsung untuk tau betapa sangarnya hewan ini. Efek sinematografis Hollywod rasanya lebih dari cukup untuk menggambarkannya.  Mungkin… ini mungkin loe bapak, itulah yang jadi sumber inspirasi bagi produser Indonesia yang membuat film dengan tema serigala itu. Mereka mau menggambarkan betapa garangnya anak-anak muda Indonesia, mungkin.


Diantara berjuta alasan lainya yang tidak kalah keren, alasan itu yang membuat saya mencoba bersimpati dengan niatan para produser, untuk menggambarkan anak muda bangsa kita tetap terlihat garang diantara persoalan bangsa yang kian rumit. Bahkan lebih rumit dari sekedar urusan difriendzone-in gebetan yang sudah berbulan-bulan digebet.


Tapi jujur bapak, semakin saya mencoba bersimpati semakin bingunglah saya. Saya memang terlalu bebal untuk sadar terlalu lama, bahwa sinetron ini mirip dengan cerita dari novel Stephanie Myer (yang juga diangkat ke layar lebar). Saya juga gerah saat muncul lagi “tandingan” dengan tema yang sama di statsiun televisi swasta nasional lainya. Seolah-olah gubernur tandingan, ketua DPR tandingan dan ketua partai tandingan masih kurang banyak, melengkapi komedi manusia-manusia Indonesia.


Coba bapak lihat, dua stasiun swasta itu seperti terkesan berlomba “ini loe versi contekan saya yang lebih keren”. Saat yang satu memakai merk “Gan****-Gan*** Serigala” yang satu lagi memakai merk dengan hewan yang sama “Man*** Serigala”. Lalu saya membayangkan, mungkin akan muncul film lagi film sejenis, dengan tema yang mewakili sisi feminis “Cowok Meong-Meong”. Aduhhh… Maafkan ucapan delusional saya ini bapak.


Tapi bapak, saya yakin andaikan Stephanie Myer kurang kerjaan melihat sinetron ini, dia tidak akan tega menuntut atas tuntutan plagiarism. Saya lalu membayangkan dia tertawa ngakak sambil membanting laptopnya saat menonton thriller kedua sinetron tadi di Youtube. Entah karena efek sinematografinya atau jalan ceritanya yang ahhhh sudahlah, saya tidak ingin menambah kesoktauan saya tentang film lewat tulisan ini.


Oh iya Stephanie Myer…


Lalu setelah sadar, bahwa jalan ceritanya mirip novel karya Stephanie Myer, tentang cerita triologi pertempuran penghisap darah dan manusia serigala. Manusia penghisap darah yang sama sekali tidak membuat anak kecil bergidik ngeri. Keponakan perempuan saya yang masih TK tidak lagu peduli bahwa Robert Patinson aslinya adalah vampir. Ganteng om... Begitu katanya. Ahhh bodoh nian saya, horror hanya bagian pelengkap dari kisah romantic yang sebenarnya ingin diangkat. 


Oh iya "mirip", sekali lagi tolong garis bawahi kata "mirip" yah bapak. Saya tidak mau menuduh walaupun tulisan ini mungkin terlihat seperti itu. 


Bapak… Mungkin loe yah, sekali lagi mungkin, maraknya Robert Patinson wanna be bergentayangan di stasiun tv swasta inilah, yang menjadi salah satu stimulus bagi palgiarisme, yang  sedihnya masih merajalela.


Kalau dirunut mungkin akan jauh sekali jalan ceritanya. Jika boleh saya gambarkan secara singkat, kurang lebih seperti ini. Karena tema cerita yang mirip dan disenangi anak muda maka munculah pasar bagi penikmat sinetron dengan tema ini. Lalu sudah sebagaimana mestinya, para stasiun televisi kita yang agak latah , menangkap pasar menjanjikan ini. Dan mulaiah manusia-manusia ini berkeliaran di stasiun televisi swasta kita. Jauh memang, tapi kurang lebih begitu runtutan cara berpikir saya.


Lalu ijinkan saya memberikan solusi, walaupun toh saya tidak kredibel memberikan solusi. Kenapa kita tidak menggiatkan lagi cerita-cerita dari tokoh lokal yang lebih autentik, yang sebenarnya tidak kalah garang dan gagah. Saya kangen dengan Satria Indonesia atau Panji Millennium kalau kita sedang berandai-andai tentang superhero. Atau cerita karakter-karakter wayang yang sekarang keliatan gagah dengan karakter animenya. Gatutkaca mungkin, atau Pandawa lima, yang versi indianya sedang digemari ibu-ibu paruh baya dan remaja-remaja.


Tidak semua memang stasiun televisi swasta latah dan cenderung ah sudahlah… Coba bapak bangun minggu pagi sebelum berjoging ria dan liat cozplay rasa Indonesia dalam wujud Bima Satria, walaupun ide ceritanya banyak mengambil dari para kreator dari negaranya Maria Ozawa sana, toh mereka tetap menyajikan secara autentik.


Andaikan pasukan berani mati Kevin Julio atau Randy Pangalila atau Dicky Smash membaca tulisan ini, mereka pasti sudah bersiap menyerang saya bapak. Ah sudahlah… biarkan saja. Tiap warga negara toh dijamin kebebasannya untuk berpendapat. Mereka berhak marah-marah saya juga berhak buat menuliskan kegelisahan saya bapak.


Mungkin saya akan lebih maklum jika tema ceritanya Harimau Vs Jenglot. Harimau adalah endemik khas asia dan Jenglot adalah horor penghisap darah asli Indonesia. Akan terdengar lebih autentik bukan. Aduhhh saya ngelantur lagi bapak.


Yah kurang lebih begitulah kegelisahan dari sudut pandang saya. Tentang efek sinematografinya atau bagaimana jalan cerita dan bla bla bla lain yang menjadi part dalam lembar penilian para juri FFI, biar orang lain saja yang menyuarakannya. Saya takut ditanyakan “memang kamu punya hak dan basic apa jelek-jelekin sinetron”. Kita khan orang Indonesia bapak, segala sesuatunya pasti dipandangai dari sudut pandang negatif, sekalipun niat utamanya bukan itu. 


Sudah yah bapak, saya semakin nyinyir saja dalam tulisan ini. Jika bapak berkenan membaa tulisan ini akan berbahagialah saya. Tapi Jika tidak saya juga sadar bahwa bapak terlalu sibuk mengurusi hal yang lebih penting ketimbang curhat sesat saya.


Salam Damai...




Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise