Kamis, 12 Juni 2014

Diantara Dua Pesta








Thanks God Pemilihan presiden tahun ini berdekatan dengan masa-masa pesta akbar bernama Piala Dunia.



Kenapa saya begitu bersyukur, well… let me tell you saya bakal tidak terlalu sering membaca twit dan post "primitif" saling menjatuhkan dari mereka yang (sok) mengerti politik atau mereka yang mengerti ataupun mereka yang punya tugas mensetting negative campaignblack campaign sampai black and white campaign. Heal yeah!!!.



Memang tidak terlalu signifikan “redam”nya tapi setidaknya cerita tentang bagaimana calon nomer dua itu memenenangkan debat periode satu dan bagaimana calon nomor satu itu akan membalas di periode berikutnya agak sedikit tersamarkan dengan komentar sepakbola.



Tinggalkan sejenak nomer satu atau nomer dua itu, sesungguhnya akan lebih tertarik mendengar debat ulasan strategi saat Catenacio bertemu Kick And Rush ataupun strategi Tottal Footbal yang harus beradu dengan versi modernnya, Tiki-taka, diawal-awal kompetisi (iya dua pertandingan tim besar itu sudah tersaji diawal).



Lalu lupakan sejenak kalimat-kalimat kontroversi dari dua kutub politik itu,  sesungguhnya psywar sebelum pertandingan akan terdengar seperti khotbah surgawi ketimbang psywar politik itu, ahhhh andaikan Mourinho ataupun Benitez turut serta di edisi Piala dunia kali ini, tapi tak apa nama Van Gaal ataupun Scolari, juga sudah cukup.



Kalau sudah begini mereka yang (sok) mengerti politik atau mereka yang memang mengerti khan juga agak susah menjelek2an salah satu pasangan calon. Memperhatikan gaya rambut Ronaldo pasti akan terlihat lebih menarik ketimbang membahas pakaian yang akan dipakai bapak nomer satu atau dua tadi. Saya pribadi akan lebih tertarik memperhatikan desain Bus yang akan dipakai tim nasional suatu negara, ketimbang si A naik Lexus dan si B naik Becak.



Tapi seperti kata Optimus Prime di sekuel ketiga Transformernya,



“Dalam setiap perang Akan ada ketenangan diantara badai”

Diantara dilematika perang Pesta, Piala Dunia dan Pesta Rakyat aka ada jalan tengah dan kebahagian yang menjembatani dua pesta tadi. Terbayang sudah malam-malam selama piala dunia bakal jadi malam yang indah bagi mereka para penjudi bola, saya jamin mereka akan mendapat tambahan untuk "masang".  Juga tak  tak apalah sekali dua kali  calon yang sedang bertarung tadi muncul dilayar televisi menjadi pundit yang mengulas gaya bermain Neymar atau Messi. Beli hak siar mahal tauk, khan perlu juga untuk mendongkrak ratting. Toh saya juga tidak begitu peduli jika nanti pasangan nomer urut satu atau dua tadi perlu menyewa pakar bola supaya keliahatan hype di televisi. 



Mungkin saya lebih milih Masak air untuk meneyeduh kopi instant atau mie instant atau update informasi via internet saat diawal pertandingan, jeda babak ataupun akhir pertandingan mereka mengkomentari laga.

Selasa, 10 Juni 2014

Catatan Seorang Fans




Kapan terakhir kali saya merasa benar-benar merasa “hina” menjadi seorang fans United. Kapan yahhhh…  emmhhh sepertinya tidak perlu (sok) mikir, jelas saja akhir musim ini. Rasanya ngalah-ngalahin waktu digundulin 1-7 dan kehilangan gelar diakhir musim. Kita finish sesuai  dengan nomor punggung keramat yang lowong musim ini. 

Ahhhh kampret harusnya twit saya saat Valencia masuk dengan nomer punggung 25, saat Community Shield lalu dengan tagar #Kode (berharap kedatangan sang bintang bernomor 7) tidak perlu ditulis. Beginilah jadinya #kode tersebut. Selama sisa pertandingan musim kemarin, Saya hanya ingin sesegera terbangun dari mimpi buruk ini.

Saya tidak berniat turut serta ramai-ramai memaki Moyes akibat kegagapannya meracik startegi dari warisan sebuah tim yang cukup mumpuni musim lalu. Tapi saya juga tidak mau menghibur diri dengan ramah tamah omong kosong seperti “Sabarlah… Liat Fergie saat pertama kali datang, dia membutuhkan beberapa musim untuk bisa mendapat gelar perdananya”. Masalahnya saat itu Fergie mewarisi sebuah tim yang lebih fasih berdikso ketimbang mencetak gol. Ditambah lagi cerita (di media) saat The Cliff akrab dengan wangi alkohol saat latihan tim beerlangsung.

Seburuk apapun Moyes dan sesering apapun Moyes “memecahkan rekor”, toh dia tetap bagian dari sejarah tim ini. #ThanksMoyes.

Setelah musim ini berakhir entah sudah berapa kali saya dengar ucapan bela sungkawa yang datang silih berganti. Tapi yah sudahlah… Saya toh tidak merasa punya pilihan untuk berpaling hati ke klub lain yang sedang in musim ini, Masa-masa saya menjadi glory hunter yang ngefans pada sebuah tim di periode tertentu sudah lewat eranya. 

Godaan untuk pindah lain hati sebenarnya lebih kencang saat musim lalu berakhir, saat “dewa” kami memutuskan untuk pensiun. Selama ini kami terbiasa dengan kepastian akan satu dua gelar yang dijanjikan oleh Fergie tiap akhir musim, otomatis saat dia memutuskan “berhenti memarahi pemain”, saya ragu akan kehebatan tim ini dimusim berikut.

Lalu saya mendengar sebuah pidato epik saat Ferguson resmi mengucapkan salam perisahan di OT, dengan suara bergetar tapi tetap tegas dia menyampaikan khotbah terakhirnya sebagai seorang manajer. Dan kami para pengkit ajarannya yang taat,  sembari sesungukan (beberapa) memperhatikan dengan seksama. Hampir semua point yang dia ucapkan saya ingat dengan jelas,  tapi bagian inilah yang membuat saya tersentak dan sadar.

All these palyers today have represented our club in the proper way- they have won a championship in fantastic fashion. Well done players

My retirement doesn’t mean the end of my life with the club. I will now be able to enjoy watching them rather than suffer with them

I’d also like to remind you that we had bad times here the club stood by me, all my setaff stood by me, the players stood by me- your job is now stand by our manager. That is important

Damai yahhh bandingkan dengan  kaliamat saat ia pertama kali datang ke Old Trafford

My greatest challenge is not what’s happening at the moment, my greatest challenge was knocking Liverpool right their fucking perch. And you can print that

Dia tau bagaimana memulai seusatu dengan penuh semangat dan mengkahirinya dengan damai. Iyahhh… Dia tidak lupa menyuapi serotonin yang menenangkan sekaligus menguatkan sebeleum pergi  (setelah diawal kedatangannya dia mencekoki adrenalin dengan porsi yang cukup membuat muntah). Dia paham benar akan “beratnya” musim transisi dikemudian hari.  Lewat pidatonya Sir Alex meyakinkan bahwa Manchester United akan tetap menjadi Manchester United.

Saya percaya Manchester United tidak akan berubah menjadi tim dengan dongeng cinderela sebagai analoginya. Sebut saja Manchester City atau siapapun yang tiba-tiba menjadi “berduit”, siapapun bakal mengerti analogi seorang pangeran berkuda putih bernama Seikh Mansour yang datang dan memerikan kecupan surga, bagi prestasi city yang biasa-biasa saja, atau pengeran lainnya dari belahan bumi yang tidak terlalu jauh dari Inggris, Rusia yeah I’m talking about Abrahamovic of course. Ahhhh ntar dicap iri lagi.

Kami akan kembali memupuk Class of 92 diera modern, kami akan kembali melahirkan duet Ro (Ronaldo dan Rooney) di era modern. Kami akan tetap menjadi tim dengan cara belanja yang “sedikit pelit” untuk mengajarkan kecermatan sebagai manusia biasa yang perlu berhati-hati, tapi diwaktu-waktu tertentu tetap perlut berfoya-foya menggelentorkan uang saat (membeli pemian mahal). No… saya yakin itu tidak akan menjadi tradisi, kami punya akademi yang siap “melahirkan” Giggs dan Scholes baru kapan saja, dan saya benar-benar menantikan Januzaj, Wilson, King tumbuh dan menjadi bagian penting dari tim.

Saya tidak tahu apakah epos  tentang  kemenangan di akhir-akhir laga yang penuh dengan drama  akan tetap menjadi ciri khas kami. Tapi yang jelas bagaimanapun caranya, ciri khas apa lagi yang akan dilekatkan pada kami saya yakin kami akan kembali ke track yang tepat untuk kembali menjadi penguasa.

Ahhh cerita yang dekat dengan sisi manusia. Karena saya percaya hidup kita hanya sekumpulan cerita tentang menabung dan menikmati keindahan di kemudian hari. Begitulah Manchester United mengajarkan tentang sebuah proses kehidupan yang tidak instant. Sampai kapanpun, esensi sebagai manusia biasa yang berporses menjadi lebih baik akan tetap menjadi bagian dari Manchester United, kita hanya dhadapkan pada permasalahan "Sabar atau tidaknya", karena proses tersebut tidak pernah mudah.

Jadi saat musim ini berjalan,  saat musim transisi ini harus kami lewati saya sudah menyiapkan hati untuk cerita seburuk apapun, walaupun harus diakui guncangan hebat datang tanpa ampun itu agak sedikit membuat saya “kecewa”. Tapi… Yah sudahlahhh

Saya jadi ingat pada salah satu kutipan dari Yusuf Arifin dalam tulisannya berjudul “Seribu satu alasan mencintai (klub) sepakbola.

Dan menjadi pendukung klub sepakbola itu lebih parah dari terjebak dalam perkawinan yang mengesalkan, anda tidak bisa selingkuh.

Nb : Sayang ini cuman analogi yah

Ahhh ternyata benar kata mas Yusuf arifin, kita benar-benar tidak bisa selingkuh

#GGMU

(Sok Tau) Tentang Cinta



Setelah perdebatan singkat malam tadi dengan saudari nun jauh disana, saya merasa perlu memberi pemahaman (sok tau) kepadanya tentang prespektif yang benar.

Entah sampai kapan perdebatan klasik itu berlangsung, tapi setidaknya ijinkan saya memberikan pendapat saya tentang arti cinta yang selalu diperdebatkan oleh sebagian besar manusia dimuka bumi.  Oh iya… Sebelumnya maafkan saya yang tidak terlalu kompeten bercerita tentang point ini, point yang diperdebatkan bahkan lebih lama dari pertempuran klasik atas nama cinta keluarga Capulet dan Montague.

Lalu saya teringat sama quotes ini. Iyah… saya lupa siapa yang nulis ini, tapi quotes ini bener-bener jlebbb buat yang masih teriak-teriak dan menyepelekan point ini.

Persetan dengan cinta! Cinta gag bisa kasih lu makan…
Jika ibumu tidak cinta denganmu, ia sudah menjualmu demi makanan

Orang-orang terkadang terjerumus dengan apatisme berbunyi “Cinta gag bisa kasih lu makan”. Tapi lupa untuk mencerna lebih dalam lagi arti dari point itu. Kita lebih sering menilai hal ini sepintas dan tak adil, padahal khan seperti kata Padi Semuaaaaa tak samaaaaa.

Saya akan setuju dengan arti “cinta gag bisa ngasih lu makan”, kalau yang jadi patokan adalah tregedi romansa saat pria melamar wanita dengan kata surga “Saya bawa cinta” lalu kenyataannya dia membiarkan wanitanya berjuang sendiri demi keluarga sementara si pria sibuk molor dirumah, itu bukan cinta… itu kampret… Catat!!!. Atau romansa lain yang bercerita saat salah satu individu saja yang berjuang demi harapan, sementara yang lain milih diem sambil bertahan dalam “kemalasan” atas nama C.I.N.T.A.

Saya juga setuju, urusan Cinta gag bakal semudah iklan minuman berenergi yang taglinenya “Bisaaa” itu. Pernah nonton iklannya?. Adegannya kurang lebih begini, sang cowok sedang makan mala, sama keluarga besar ceweknya yang kurang bershabat. Tiba-tiba dengan tegas orang tua si cewek yang mirip Landlord dan Landlady-nya Kungfu Hustle, bertanya “Kamu bawa apa”, setelah menahan keringat dingin dan mendapat ilham dari minuman berenergi , si cowok menjawab dengan tidak kalah dramatis “Cuman bawa cinta” scene berikutnya muncul merpati entah dari mana lengkap dengan French kiss dan sambutan hangat dari saudaranya.

Urusan cinta tidak bakal sesimpel itu. Saya malah curiga apakah saat adegan itu mereka sedang fly karena over dosis sacharine.

Berarti cinta itu cukup dong?

Seharusnya iya kalau atas nama cinta seseorang berjuang demi tujuan hidup demi masa depan dan demi harapan. Kecuali mereka para kampret yang bawa-bawa nama cinta tapi masih saja merusak esensi sebenarnya. Kog jadi serius yah?!.

Pilah pilihlah, dan nilai lebih teliti kedalam dua point yang saya sebut tadi, kasihan mereka-mereka yang berjuang atas nama cinta.

Tiap orang punya hak buat memberi esensi tentang arti kata Cinta. Mereka yang bilang “makan tuch cinta” akan tetap ada, sama halnya dengan (para kampret) yang mengatasnamakan cinta juga bakal tetap ada, saya cuman mau berbagi dari sudut pandang saya tentang arti cinta.

Ahhh siapa saya punya hak memberi pehaman tentang cinta mungkin benar kata Nunung Cs yang mengartikan cinta sedemikian banyaknya. Karena tiap manusia punya hak mengartikannya.

Cinta… ini membunuhku
Cinta… ini C.I.N.T.A
Cinta… Sahabat jadi cinta
Cinta… Cintaku bukan cinta biasa bila kau yang memiliki
Cinta… Itu Laura
Cinta… Itu Fitri
Cinta… Cinta juga Kuya
Cinta… Ada apa dengan Cinta
Cinta… Cinta…Cinta… Cinta gubuk derita
Cinta… Cinta…Cinta… Rekayasa cinta
Cinta… Cinta…Cinta… Bukan pengemis cinta
Cinta… Cinta…Cinta… Persetan dengan cinta



Setelah perdebatan singkat malam tadi dengan saudari nun jauh disana, saya merasa perlu memberi pemahaman (sok tau) kepadanya tentang prespektif yang benar.

Entah sampai kapan perdebatan klasik itu berlangsung, tapi setidaknya ijinkan saya memberikan pendapat saya tentang arti cinta yang selalu diperdebatkan oleh sebagian besar manusia dimuka bumi.  Oh iya… Sebelumnya maafkan saya yang tidak terlalu kompeten bercerita tentang point ini, point yang diperdebatkan bahkan lebih lama dari pertempuran klasik atas nama cinta keluarga Capulet dan Montague.

Lalu saya teringat sama quotes ini. Iyah… saya lupa siapa yang nulis ini, tapi quotes ini bener-bener jlebbb buat yang masih teriak-teriak dan menyepelekan point ini.

Persetan dengan cinta! Cinta gag bisa kasih lu makan…
Jika ibumu tidak cinta denganmu, ia sudah menjualmu demi makanan

Orang-orang terkadang terjerumus dengan apatisme berbunyi “Cinta gag bisa kasih lu makan”. Tapi lupa untuk mencerna lebih dalam lagi arti dari point itu. Kita lebih sering menilai hal ini sepintas dan tak adil, padahal khan seperti kata Padi Semuaaaaa tak samaaaaa.

Saya akan setuju dengan arti “cinta gag bisa ngasih lu makan”, kalau yang jadi patokan adalah tregedi romansa saat pria melamar wanita dengan kata surga “Saya bawa cinta” lalu kenyataannya dia membiarkan wanitanya berjuang sendiri demi keluarga sementara si pria sibuk molor dirumah, itu bukan cinta… itu kampret… Catat!!!. Atau romansa lain yang bercerita saat salah satu individu saja yang berjuang demi harapan, sementara yang lain milih diem sambil bertahan dalam “kemalasan” atas nama C.I.N.T.A.

Saya juga setuju, urusan Cinta gag bakal semudah iklan minuman berenergi yang taglinenya “Bisaaa” itu. Pernah nonton iklannya?. Adegannya kurang lebih begini, sang cowok sedang makan mala, sama keluarga besar ceweknya yang kurang bershabat. Tiba-tiba dengan tegas orang tua si cewek yang mirip Landlord dan Landlady-nya Kungfu Hustle, bertanya “Kamu bawa apa”, setelah menahan keringat dingin dan mendapat ilham dari minuman berenergi , si cowok menjawab dengan tidak kalah dramatis “Cuman bawa cinta” scene berikutnya muncul merpati entah dari mana lengkap dengan French kiss dan sambutan hangat dari saudaranya.

Urusan cinta tidak bakal sesimpel itu. Saya malah curiga apakah saat adegan itu mereka sedang fly karena over dosis sacharine.

Berarti cinta itu cukup dong?

Seharusnya iya kalau atas nama cinta seseorang berjuang demi tujuan hidup demi masa depan dan demi harapan. Kecuali mereka para kampret yang bawa-bawa nama cinta tapi masih saja merusak esensi sebenarnya. Kog jadi serius yah?!.

Pilah pilihlah, dan nilai lebih teliti kedalam dua point yang saya sebut tadi, kasihan mereka-mereka yang berjuang atas nama cinta.

Tiap orang punya hak buat memberi esensi tentang arti kata Cinta. Mereka yang bilang “makan tuch cinta” akan tetap ada, sama halnya dengan (para kampret) yang mengatasnamakan cinta juga bakal tetap ada, saya cuman mau berbagi dari sudut pandang saya tentang arti cinta.

Ahhh siapa saya punya hak memberi pehaman tentang cinta mungkin benar kata Nunung Cs yang mengartikan cinta sedemikian banyaknya. Karena tiap manusia punya hak mengartikannya.

Cinta… ini membunuhku
Cinta… ini C.I.N.T.A
Cinta… Sahabat jadi cinta
Cinta… Cintaku bukan cinta biasa bila kau yang memiliki
Cinta… Itu Laura
Cinta… Itu Fitri
Cinta… Cinta juga Kuya
Cinta… Ada apa dengan Cinta
Cinta… Cinta…Cinta… Cinta gubuk derita
Cinta… Cinta…Cinta… Rekayasa cinta
Cinta… Cinta…Cinta… Bukan pengemis cinta
Cinta… Cinta…Cinta… Persetan dengan cinta


Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise