Kapan terakhir kali saya merasa benar-benar merasa
“hina” menjadi seorang fans United. Kapan yahhhh… emmhhh sepertinya
tidak perlu (sok) mikir, jelas saja akhir musim ini. Rasanya ngalah-ngalahin
waktu digundulin 1-7 dan kehilangan gelar diakhir musim. Kita finish
sesuai dengan nomor punggung keramat yang lowong musim ini.
Ahhhh kampret harusnya twit saya saat
Valencia masuk dengan nomer punggung 25, saat Community Shield lalu
dengan tagar #Kode (berharap kedatangan sang bintang bernomor 7) tidak perlu
ditulis. Beginilah jadinya #kode tersebut. Selama sisa pertandingan musim
kemarin, Saya hanya ingin sesegera terbangun dari mimpi buruk ini.
Saya tidak berniat turut serta ramai-ramai memaki
Moyes akibat kegagapannya meracik startegi dari warisan sebuah tim yang cukup
mumpuni musim lalu. Tapi saya juga tidak mau menghibur diri dengan ramah tamah
omong kosong seperti “Sabarlah… Liat Fergie saat pertama kali datang, dia
membutuhkan beberapa musim untuk bisa mendapat gelar perdananya”. Masalahnya
saat itu Fergie mewarisi sebuah tim yang lebih fasih berdikso ketimbang
mencetak gol. Ditambah lagi cerita (di media) saat The Cliff akrab dengan wangi
alkohol saat latihan tim beerlangsung.
Seburuk apapun Moyes dan sesering apapun Moyes
“memecahkan rekor”, toh dia tetap bagian dari sejarah tim ini. #ThanksMoyes.
Setelah musim ini berakhir entah sudah berapa kali
saya dengar ucapan bela sungkawa yang datang silih berganti. Tapi yah sudahlah…
Saya toh tidak merasa punya pilihan untuk berpaling hati ke klub lain yang
sedang in musim ini, Masa-masa saya menjadi glory
hunter yang ngefans pada sebuah tim di periode tertentu sudah lewat
eranya.
Godaan untuk pindah lain hati sebenarnya lebih
kencang saat musim lalu berakhir, saat “dewa” kami memutuskan untuk pensiun.
Selama ini kami terbiasa dengan kepastian akan satu dua gelar yang dijanjikan
oleh Fergie tiap akhir musim, otomatis saat dia memutuskan “berhenti memarahi
pemain”, saya ragu akan kehebatan tim ini dimusim berikut.
Lalu saya mendengar sebuah pidato epik saat
Ferguson resmi mengucapkan salam perisahan di OT, dengan suara bergetar tapi
tetap tegas dia menyampaikan khotbah terakhirnya sebagai seorang manajer. Dan
kami para pengkit ajarannya yang taat, sembari sesungukan (beberapa)
memperhatikan dengan seksama. Hampir semua point yang dia ucapkan saya ingat
dengan jelas, tapi bagian inilah yang membuat saya tersentak dan sadar.
All these palyers today have represented our
club in the proper way- they have won a championship in fantastic fashion. Well
done players
My retirement doesn’t mean the end of my life
with the club. I will now be able to enjoy watching them rather than suffer
with them
I’d also like to remind you that we had bad
times here the club stood by me, all my setaff stood by me, the players stood
by me- your job is now stand by our manager. That is important
Damai yahhh bandingkan dengan kaliamat saat
ia pertama kali datang ke Old Trafford
My greatest challenge is not what’s happening at
the moment, my greatest challenge was knocking Liverpool right their fucking
perch. And you can print that
Dia tau bagaimana memulai seusatu dengan penuh
semangat dan mengkahirinya dengan damai. Iyahhh… Dia tidak
lupa menyuapi serotonin yang menenangkan sekaligus
menguatkan sebeleum pergi (setelah diawal kedatangannya dia
mencekoki adrenalin dengan porsi yang cukup membuat muntah). Dia paham benar
akan “beratnya” musim transisi dikemudian hari. Lewat pidatonya Sir Alex
meyakinkan bahwa Manchester United akan tetap menjadi Manchester United.
Saya percaya Manchester United tidak akan berubah
menjadi tim dengan dongeng cinderela sebagai analoginya. Sebut saja Manchester
City atau siapapun yang tiba-tiba menjadi “berduit”, siapapun bakal mengerti
analogi seorang pangeran berkuda putih bernama Seikh Mansour yang datang dan
memerikan kecupan surga, bagi prestasi city yang biasa-biasa saja, atau
pengeran lainnya dari belahan bumi yang tidak terlalu jauh dari
Inggris, Rusia yeah I’m talking about Abrahamovic of course. Ahhhh
ntar dicap iri lagi.
Kami akan kembali memupuk Class of 92 diera modern,
kami akan kembali melahirkan duet Ro (Ronaldo dan Rooney) di era modern. Kami
akan tetap menjadi tim dengan cara belanja yang “sedikit pelit” untuk
mengajarkan kecermatan sebagai manusia biasa yang perlu berhati-hati, tapi
diwaktu-waktu tertentu tetap perlut berfoya-foya menggelentorkan uang saat (membeli
pemian mahal). No… saya yakin itu tidak akan menjadi tradisi,
kami punya akademi yang siap “melahirkan” Giggs dan Scholes baru kapan saja,
dan saya benar-benar menantikan Januzaj, Wilson, King tumbuh dan menjadi bagian
penting dari tim.
Saya tidak tahu apakah epos tentang
kemenangan di akhir-akhir laga yang penuh dengan drama akan tetap menjadi
ciri khas kami. Tapi yang jelas bagaimanapun caranya, ciri khas apa lagi yang
akan dilekatkan pada kami saya yakin kami akan kembali ke track yang
tepat untuk kembali menjadi penguasa.
Ahhh cerita
yang dekat dengan sisi manusia. Karena saya percaya hidup kita hanya sekumpulan
cerita tentang menabung dan menikmati keindahan di kemudian hari. Begitulah
Manchester United mengajarkan tentang sebuah proses kehidupan yang tidak
instant. Sampai kapanpun, esensi sebagai manusia biasa yang berporses menjadi
lebih baik akan tetap menjadi bagian dari Manchester United, kita hanya
dhadapkan pada permasalahan "Sabar atau tidaknya", karena proses
tersebut tidak pernah mudah.
Jadi saat musim ini berjalan, saat musim
transisi ini harus kami lewati saya sudah menyiapkan hati untuk cerita seburuk
apapun, walaupun harus diakui guncangan hebat datang tanpa ampun itu agak
sedikit membuat saya “kecewa”. Tapi… Yah sudahlahhh
Saya jadi ingat pada salah satu kutipan dari Yusuf
Arifin dalam tulisannya berjudul “Seribu satu alasan mencintai (klub) sepakbola.
Dan menjadi pendukung klub sepakbola itu lebih
parah dari terjebak dalam perkawinan yang mengesalkan, anda tidak bisa
selingkuh.
Nb : Sayang ini cuman analogi yah
Ahhh ternyata benar kata mas Yusuf arifin, kita
benar-benar tidak bisa selingkuh
#GGMU

Tidak ada komentar:
Posting Komentar