Selasa, 10 Juni 2014

Catatan Seorang Fans




Kapan terakhir kali saya merasa benar-benar merasa “hina” menjadi seorang fans United. Kapan yahhhh…  emmhhh sepertinya tidak perlu (sok) mikir, jelas saja akhir musim ini. Rasanya ngalah-ngalahin waktu digundulin 1-7 dan kehilangan gelar diakhir musim. Kita finish sesuai  dengan nomor punggung keramat yang lowong musim ini. 

Ahhhh kampret harusnya twit saya saat Valencia masuk dengan nomer punggung 25, saat Community Shield lalu dengan tagar #Kode (berharap kedatangan sang bintang bernomor 7) tidak perlu ditulis. Beginilah jadinya #kode tersebut. Selama sisa pertandingan musim kemarin, Saya hanya ingin sesegera terbangun dari mimpi buruk ini.

Saya tidak berniat turut serta ramai-ramai memaki Moyes akibat kegagapannya meracik startegi dari warisan sebuah tim yang cukup mumpuni musim lalu. Tapi saya juga tidak mau menghibur diri dengan ramah tamah omong kosong seperti “Sabarlah… Liat Fergie saat pertama kali datang, dia membutuhkan beberapa musim untuk bisa mendapat gelar perdananya”. Masalahnya saat itu Fergie mewarisi sebuah tim yang lebih fasih berdikso ketimbang mencetak gol. Ditambah lagi cerita (di media) saat The Cliff akrab dengan wangi alkohol saat latihan tim beerlangsung.

Seburuk apapun Moyes dan sesering apapun Moyes “memecahkan rekor”, toh dia tetap bagian dari sejarah tim ini. #ThanksMoyes.

Setelah musim ini berakhir entah sudah berapa kali saya dengar ucapan bela sungkawa yang datang silih berganti. Tapi yah sudahlah… Saya toh tidak merasa punya pilihan untuk berpaling hati ke klub lain yang sedang in musim ini, Masa-masa saya menjadi glory hunter yang ngefans pada sebuah tim di periode tertentu sudah lewat eranya. 

Godaan untuk pindah lain hati sebenarnya lebih kencang saat musim lalu berakhir, saat “dewa” kami memutuskan untuk pensiun. Selama ini kami terbiasa dengan kepastian akan satu dua gelar yang dijanjikan oleh Fergie tiap akhir musim, otomatis saat dia memutuskan “berhenti memarahi pemain”, saya ragu akan kehebatan tim ini dimusim berikut.

Lalu saya mendengar sebuah pidato epik saat Ferguson resmi mengucapkan salam perisahan di OT, dengan suara bergetar tapi tetap tegas dia menyampaikan khotbah terakhirnya sebagai seorang manajer. Dan kami para pengkit ajarannya yang taat,  sembari sesungukan (beberapa) memperhatikan dengan seksama. Hampir semua point yang dia ucapkan saya ingat dengan jelas,  tapi bagian inilah yang membuat saya tersentak dan sadar.

All these palyers today have represented our club in the proper way- they have won a championship in fantastic fashion. Well done players

My retirement doesn’t mean the end of my life with the club. I will now be able to enjoy watching them rather than suffer with them

I’d also like to remind you that we had bad times here the club stood by me, all my setaff stood by me, the players stood by me- your job is now stand by our manager. That is important

Damai yahhh bandingkan dengan  kaliamat saat ia pertama kali datang ke Old Trafford

My greatest challenge is not what’s happening at the moment, my greatest challenge was knocking Liverpool right their fucking perch. And you can print that

Dia tau bagaimana memulai seusatu dengan penuh semangat dan mengkahirinya dengan damai. Iyahhh… Dia tidak lupa menyuapi serotonin yang menenangkan sekaligus menguatkan sebeleum pergi  (setelah diawal kedatangannya dia mencekoki adrenalin dengan porsi yang cukup membuat muntah). Dia paham benar akan “beratnya” musim transisi dikemudian hari.  Lewat pidatonya Sir Alex meyakinkan bahwa Manchester United akan tetap menjadi Manchester United.

Saya percaya Manchester United tidak akan berubah menjadi tim dengan dongeng cinderela sebagai analoginya. Sebut saja Manchester City atau siapapun yang tiba-tiba menjadi “berduit”, siapapun bakal mengerti analogi seorang pangeran berkuda putih bernama Seikh Mansour yang datang dan memerikan kecupan surga, bagi prestasi city yang biasa-biasa saja, atau pengeran lainnya dari belahan bumi yang tidak terlalu jauh dari Inggris, Rusia yeah I’m talking about Abrahamovic of course. Ahhhh ntar dicap iri lagi.

Kami akan kembali memupuk Class of 92 diera modern, kami akan kembali melahirkan duet Ro (Ronaldo dan Rooney) di era modern. Kami akan tetap menjadi tim dengan cara belanja yang “sedikit pelit” untuk mengajarkan kecermatan sebagai manusia biasa yang perlu berhati-hati, tapi diwaktu-waktu tertentu tetap perlut berfoya-foya menggelentorkan uang saat (membeli pemian mahal). No… saya yakin itu tidak akan menjadi tradisi, kami punya akademi yang siap “melahirkan” Giggs dan Scholes baru kapan saja, dan saya benar-benar menantikan Januzaj, Wilson, King tumbuh dan menjadi bagian penting dari tim.

Saya tidak tahu apakah epos  tentang  kemenangan di akhir-akhir laga yang penuh dengan drama  akan tetap menjadi ciri khas kami. Tapi yang jelas bagaimanapun caranya, ciri khas apa lagi yang akan dilekatkan pada kami saya yakin kami akan kembali ke track yang tepat untuk kembali menjadi penguasa.

Ahhh cerita yang dekat dengan sisi manusia. Karena saya percaya hidup kita hanya sekumpulan cerita tentang menabung dan menikmati keindahan di kemudian hari. Begitulah Manchester United mengajarkan tentang sebuah proses kehidupan yang tidak instant. Sampai kapanpun, esensi sebagai manusia biasa yang berporses menjadi lebih baik akan tetap menjadi bagian dari Manchester United, kita hanya dhadapkan pada permasalahan "Sabar atau tidaknya", karena proses tersebut tidak pernah mudah.

Jadi saat musim ini berjalan,  saat musim transisi ini harus kami lewati saya sudah menyiapkan hati untuk cerita seburuk apapun, walaupun harus diakui guncangan hebat datang tanpa ampun itu agak sedikit membuat saya “kecewa”. Tapi… Yah sudahlahhh

Saya jadi ingat pada salah satu kutipan dari Yusuf Arifin dalam tulisannya berjudul “Seribu satu alasan mencintai (klub) sepakbola.

Dan menjadi pendukung klub sepakbola itu lebih parah dari terjebak dalam perkawinan yang mengesalkan, anda tidak bisa selingkuh.

Nb : Sayang ini cuman analogi yah

Ahhh ternyata benar kata mas Yusuf arifin, kita benar-benar tidak bisa selingkuh

#GGMU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise