Ada senyummu…
Ditiap pelukan semu yang kuekspresikan lewat doa
Ditiap lagu yang menemani hari-hariku
Ditiap kata halo dan untaian kalimat dalam sekian karakter akun chat
dihari-hari penuh rindu
Ditiap waktu-waktu berkarya, yang sedang kuperjuangkan untuk pertemuan kita
kelak
#Pty
Sabtu, 22 Maret 2014
Tentang Sebuah Doa Sederhana...
Minggu 3 Maret 2013
Kadang kalau sibuk
sehari dan sepertinya lelah,
bisa berubah setelah
sesi bertemu anak-anak
rasanya puas! Rasanya Saya berguna,
Hilang sama sekali capek
Kaka Rani BUP Jayapura
Mereka belajar
membaca, bercerita, berani bermimpi…
Saat saya merasa
bangga bisa membuat mereka berani bermimpi,
sebenarnya mereka
mengajarkan saya hal yang jauh lebih besar,
tentang hidup yang
memiliki mimpi
Kaka Lina BUP Biak,
Surabaya, Bandung (entah mana lagi)
Hari itu, pertama kami @BUPSoerabaja melaksanakan
event Kelas Cerdas. Waktu itu saya kebagian tugas buat bercerita tentang
rumah baca yang Puji Tuhan saya gag tau sama sekali harus bercerita apa, selama
ini saya cuman tau rumus sederhana ini. Kami ngmupulin buku, buku dikirim, bukunya
sampai dan adek-adek disana bisa membacanya.
Sepintas saya memang mendengar tentang kebahagiaan
dari raut wajah mereka. Tapi yah sebatas itu, masalah standar bernama
imajinasi jadi problem saya membayangkan anak-anak kecil, berkerumun memilih
buku, kemudian dengan senyum lebarnya merasakan kebahagiaan melihat
apa yang kita berikan. Memang ada foto-foto dari mereka yang sering sekali
ditunjukan, tapi sekali lagi saya terlalu “cuek” untuk melihat satu-satu dan
memahami senyum-senyum itu.
Prinsip (egois) saya waktu itu, yang penting saya
berbagi, dampak dan efeknya yah sudah nanti biar Tuhan yang kasih.
Ahhhh payahhh yahhh…
Seperti yang saya ceritakan diatas cerita itu
benar-benar berubah drastis setelah saya kebagian tugas bercerita
tentang rumah baca, saat event Kelas Cerdas-nya Surabaya kemarin.
Sejak dipilih secara sepihak, dan tanpa
persetujuan kedua belah pihak, saya harus observasi yang mana
daripadanya satu-satunya senjata yah cuman dengan media chating atau
telpon. Disela-sela kesibukan bekerja ditempat yang memberi nafkah, saya
mengumpulkan informasi dari teman-teman volunteer yang bertemu langsung
dengan mereka (adik-adik).
Mereka (teman-teman volunteer) bercerita
bagaimana rasanya berinteraksi dengan adik-adik, menenangkan keributan sebelum
mulai belajar, lalu mulai belajar dengan berbagai macam metode. Dengan flash
card untuk mengenal huruf, angka, bentuk, sampai warna. Ataupun cara
lainya dengan bernyanyi dan bermain bersama. Dari nada bicara mereka dan
bahasa mereka ada kepuasan dan dan kebahagiaan saat melihat tingkah lucu dari
adik-adik yang dengan polosnya masih suka berebut buku, ataupun susahnya
menenangkan keributan mereka saat mulai belajar, dan tingkah laku polos lainya
yang membuat saya sendiri sedikit bermewek ria walaupun
tidak melihat langsung, salah satunya adalah bagaimana adik-adik merindukan
teman-teman volunteer jika satu waktu mereka tidak bisa berkunjung.
Saya juga sempat mendengar, tentang semangat
anak-anak di Rumah Baca Timika (dari kaka Gia) yang tidak rela sekolahnya
“diganggu”. Mereka berusaha membela guru dan sekolah mereka yang mau direcokin beberapa
orang yang kurang suka dengan keberadaan rumah baca disana. Apa yang
mereka lakukan? dengan polosnya, mereka melempar cat-cat kepada para
pengganggu itu (kebetulan saat itu mereka sedang merenovasi rumah baca) Sinetron
banget yaaakkk, tapi itu kejadian nyata kawan. Ahhhh... batapa
berharganya rumah baca itu buat mereka, Jadi malu sendiri jaman SMA dulu
kalau kebetulan sungai disamping sekolah saya meluap dan akhirnya sekolah
terendam, saya dan teman-teman bakal langsung bergoyang makarena kombinasi
asereje (refrensi diskonya mennn... tuwirrr), dan senang minta
ampun, karena biasanya kita langsung diliburkan. Oh iya… Teman-teman yang tau
cerita masa SMA saya, yah jangan bilang-bilang demi keamanan kita bersama.
|
Bektodepoint...
Setelah saya melihat banyak foto dari adik-adik
disana, ini salah satu foto yang membuat saya tersentuh, ini tulisan dari ones,
salah satu anak dari rumah baca Suprau di Sorong.
![]() |
| Ucapan Terima kasih dari Ones |
![]() | ||||
|
Saya tidak menyangka raut wajah yang mereka tunjukan, dan rasa terima kasih yang mereka ucapkan bisa berdampak seperti ini. Saya benar-benar jadi melankolis setelah membaca tulisan itu. Sederhana dengan gaya khas tulisan anak kecil yang sebenarnya agak susah dibaca, ala calon dokter. Buat sahabat-sahabat saya yang kebetulan dokter ataupun calon dokter suerrr saya gag niat ngece (terutama anak2 BUP, yang banyak banget berprofesi sebagai dokter, suerrr saya gag niat ngajak perang, kalian banyak euyyy).
Ones mau berterima kasih dengan segala kepolosannya, dia mau mengekspresikan rasa syukurnya bisa membaca buku yang ahhhh sepele banget, cuman buku bekas.
Kalau
dikiloin mungkin cuman dapet rokok 3 batang, atau kalo masih bagus sampul dan
isinya laku lah, dijual di pasar buku bekas yang harganya kurang lebih bisa
sebanding dengan semangkok indomie tante di burjo kalau di jogja,
atau giras dalam kosakata orang Surabaya.
Ucapan
rasa Terima Kasih Ones itu doa buat kita (teman-teman yang sudah memberi
support), doa yang kelak jadi itung-itungan berkat Tuhan buat kita. Iya…
sesimpel itu men. Berkat yang sebenarnya tidak mungkin kita terima secara
langsung, tapi percaya dehhhh semua ada itungannya.
Ternyata
sepayah apapun saya, saya juga punya bekal berharga bernama doa, dari mereka
(adik-adik). Sekecil apapun yang saya berikan punya feedback yang
(bahasa arabnya) Insya Allah bakal kembali dalam berkat yang lebih
melimpah.
Saya belum
pernah melihat langsung anak kecil yang dengan kepolosannya itu mendoakan saya
dan teman-temen BUP serta penyumbang buku lainya. Saya sendiri belum pernah
turun langsung kesana, saya cuman bisa mendengar cerita-cerita tentang
kesederhanaan adik-adik dari teman-teman volunteer disana, salah satunya someone
special yang tiap malam saya apelin via telpon *kedip-kedip mata*.
Bukan
hanya Ones, banyak Ones2 yang lain yang dengan polosnya berterima kasih dan
berdoa buat mereka yang memberikan buku, yang mereka baca.
Someday… saya ingin melihat langsung
mereka. Kalau terlalu wah buat mengajar (karena saya takut memberikan teladan
yang tidak baik), cukup melihat bagaimana tingkah polah mereka bagaimana mereka
dengan segala kepolosannya belajar hal kecil yang kelak bermanfaat bagi mimpi
mereka.
![]() |
| Ones bersama volunter guru Ruba disana... aduhhhh itu gurunya :P *kedip mata* |
Dalem yahhhhh… yang sudah mulai tersentuh mari mewek bersama.
Di sebuah siang di meja kantor……..
Temen-temen yang tertarik sama gerakan ini dan ingin melihat lihat foto-foto lainya, bisa buka linknya disini
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)

.jpg)


.jpg)