Sabtu, 22 Maret 2014

Tentang Sebuah Doa Sederhana...


Minggu 3 Maret 2013



Kadang kalau sibuk sehari dan sepertinya lelah,

bisa berubah setelah sesi bertemu anak-anak

rasanya puas! Rasanya Saya berguna,

Hilang sama sekali capek



Kaka Rani BUP Jayapura



Mereka belajar membaca, bercerita, berani bermimpi…

Saat saya merasa bangga bisa membuat mereka berani bermimpi,

sebenarnya mereka mengajarkan saya hal yang jauh lebih besar,

tentang hidup yang memiliki mimpi



Kaka Lina BUP Biak, Surabaya, Bandung (entah mana lagi)



Hari itu, pertama kami @BUPSoerabaja melaksanakan event Kelas Cerdas. Waktu itu saya kebagian tugas buat bercerita tentang rumah baca yang Puji Tuhan saya gag tau sama sekali harus bercerita apa, selama ini saya cuman tau rumus sederhana ini. Kami ngmupulin buku, buku dikirim, bukunya sampai dan adek-adek disana bisa membacanya.



Sepintas saya memang mendengar tentang kebahagiaan dari raut wajah mereka. Tapi yah sebatas itu, masalah standar bernama imajinasi jadi problem saya membayangkan anak-anak kecil, berkerumun memilih buku, kemudian dengan senyum lebarnya merasakan kebahagiaan melihat apa yang kita berikan. Memang ada foto-foto dari mereka yang sering sekali ditunjukan, tapi sekali lagi saya terlalu “cuek” untuk melihat satu-satu dan memahami senyum-senyum itu.



Prinsip (egois) saya waktu itu, yang penting saya berbagi, dampak dan efeknya yah sudah nanti biar Tuhan yang kasih.



Ahhhh payahhh yahhh… 



Seperti yang saya ceritakan diatas cerita itu benar-benar berubah drastis setelah saya kebagian tugas bercerita tentang rumah baca, saat event Kelas Cerdas-nya Surabaya kemarin.



Sejak dipilih secara sepihak, dan tanpa persetujuan kedua belah pihak, saya harus observasi yang mana daripadanya satu-satunya senjata yah cuman dengan media chating atau telpon. Disela-sela kesibukan bekerja ditempat yang memberi nafkah, saya mengumpulkan informasi dari teman-teman volunteer yang bertemu langsung dengan mereka (adik-adik).



Mereka (teman-teman volunteer) bercerita bagaimana rasanya berinteraksi dengan adik-adik, menenangkan keributan sebelum mulai belajar, lalu mulai belajar dengan berbagai macam metode. Dengan flash card untuk mengenal huruf, angka, bentuk, sampai warna. Ataupun cara lainya dengan bernyanyi dan bermain bersama. Dari nada bicara mereka dan bahasa mereka ada kepuasan dan dan kebahagiaan saat melihat tingkah lucu dari adik-adik yang dengan polosnya masih suka berebut buku, ataupun susahnya menenangkan keributan mereka saat mulai belajar, dan tingkah laku polos lainya yang membuat saya sendiri sedikit bermewek ria walaupun tidak melihat langsung, salah satunya adalah bagaimana adik-adik merindukan teman-teman volunteer jika satu waktu mereka tidak bisa berkunjung.



Saya juga sempat mendengar, tentang semangat anak-anak di Rumah Baca Timika (dari kaka Gia) yang tidak rela sekolahnya “diganggu”. Mereka berusaha membela guru dan sekolah mereka yang mau direcokin beberapa orang yang kurang suka dengan keberadaan rumah baca disana. Apa yang mereka lakukan? dengan polosnya, mereka melempar cat-cat kepada para pengganggu itu (kebetulan saat itu mereka sedang merenovasi rumah baca) Sinetron banget yaaakkk, tapi itu kejadian nyata kawan. Ahhhh... batapa berharganya rumah baca itu buat mereka, Jadi malu sendiri jaman SMA dulu kalau kebetulan sungai disamping sekolah saya meluap dan akhirnya sekolah terendam, saya dan teman-teman bakal langsung bergoyang makarena kombinasi asereje (refrensi diskonya mennn... tuwirrr), dan senang minta ampun, karena biasanya kita langsung diliburkan. Oh iya… Teman-teman yang tau cerita masa SMA saya, yah jangan bilang-bilang demi keamanan kita bersama.








Bektodepoint...



Setelah saya melihat banyak foto dari adik-adik disana, ini salah satu foto yang membuat saya tersentuh, ini tulisan dari ones, salah satu anak dari rumah baca Suprau di Sorong.


Ucapan Terima kasih dari Ones


Ones saat membaca... Ahhhh buku itu jadi Luar Biasa maknaya yahhh





Saya tidak menyangka raut wajah yang mereka tunjukan, dan rasa terima kasih yang mereka ucapkan bisa berdampak seperti ini. Saya benar-benar jadi melankolis setelah membaca tulisan itu. Sederhana dengan gaya khas tulisan anak kecil yang sebenarnya agak susah dibaca, ala calon dokter. Buat sahabat-sahabat saya yang kebetulan dokter ataupun calon dokter suerrr saya gag niat ngece (terutama anak2 BUP, yang banyak banget berprofesi sebagai dokter, suerrr saya gag niat ngajak perang, kalian banyak euyyy).


Ones mau berterima kasih dengan segala kepolosannya, dia mau mengekspresikan rasa syukurnya  bisa membaca buku yang ahhhh sepele banget, cuman buku bekas.



Kalau dikiloin mungkin cuman dapet rokok 3 batang, atau kalo masih bagus sampul dan isinya laku lah, dijual di pasar buku bekas yang harganya kurang lebih bisa sebanding dengan semangkok indomie tante di burjo kalau di jogja, atau giras dalam kosakata orang Surabaya.



Ucapan rasa Terima Kasih Ones itu doa buat kita (teman-teman yang sudah memberi support), doa yang kelak jadi itung-itungan berkat Tuhan buat kita.  Iya… sesimpel itu men. Berkat yang sebenarnya tidak mungkin kita terima secara langsung, tapi percaya dehhhh semua ada itungannya.



Ternyata sepayah apapun saya, saya juga punya bekal berharga bernama doa, dari mereka (adik-adik). Sekecil apapun yang saya berikan punya feedback yang (bahasa arabnya) Insya Allah bakal kembali dalam  berkat yang lebih melimpah.



Saya belum pernah melihat langsung anak kecil yang dengan kepolosannya itu mendoakan saya dan teman-temen BUP serta penyumbang buku lainya. Saya sendiri belum pernah turun langsung kesana, saya cuman bisa mendengar cerita-cerita tentang kesederhanaan adik-adik dari teman-teman volunteer disana, salah satunya someone special yang tiap malam saya apelin via telpon *kedip-kedip mata*.



Bukan hanya Ones, banyak Ones2 yang lain yang dengan polosnya berterima kasih dan berdoa buat mereka yang memberikan buku, yang mereka baca.



Someday… saya ingin melihat langsung mereka. Kalau terlalu wah buat mengajar (karena saya takut memberikan teladan yang tidak baik), cukup melihat bagaimana tingkah polah mereka bagaimana mereka dengan segala kepolosannya belajar hal kecil yang kelak bermanfaat bagi mimpi mereka.



Ones bersama volunter guru Ruba disana... aduhhhh itu gurunya :P *kedip mata*

Ahhhh…

Dalem yahhhhh… yang sudah mulai tersentuh mari mewek bersama.

Di sebuah siang di meja kantor……..


Temen-temen yang tertarik sama gerakan ini dan ingin melihat lihat foto-foto lainya, bisa buka linknya disini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise