Someday I'll Be Saturday Night-Bon Jovi
#Np
Entah kenapa saya tetap jatuh cinta dengan
musik-musik mereka. Walaupun sudah sampai bosan “dicap” jadul oleh beberapa
teman yang referensi musiknya Hitz abessss. Mulai dari Super
Junior sampai saat mereka sudah naik kelas menjadi Super Senior sekalipun. Saya
tidak anti dengan musik mereka, hanya saja saya sulit menemukan “kebahagiaan”
saat mendengar musik dengan genre seperti itu. Sebenarnya tidak semua, ada
beberapa musik K-Pop yang tetap nyaman saya dengarkan kog
Oh iya… Satu-satunya kekecewaan tentang Bon Jovi
adalah saya harus menerima menerima kenyataan bahwa mereka sudah tidak berkarya
lagi. Setidaknya dibawah payung yang sama, perjalanan Richie dan Jon sepertinya
sudah sampai ditahap akhir. Ahhhh sudahlah… Lama atau
panjangnya umur siapa yang tau. Saya lebih terterik bercerita tentang apa yang
mereka hasilkan. Memang tak ada yang abadi, Lenon dan Mc Cartney saja walaupun
tak pernah sempat “akur” kembali, toh karyanya tetap dikenang sebagai cerita
kehidupan khan???
Okeyyyy…
Mumpung momentnya tepat (akhir pekan), Sekarang
dengan segala kesoktauan saya, ijinkan saya bercerita tentang salah satu maha
karya Bon Jovi di tahun 1995 “Someday I’ll Be Saturday Night”. Diambil dari
dari album The Best “Cross Road”, lagu ini termasuk hits selain salah satu identitas
sepanjang masanya “Always”. Bagi yang pernah melihat video clip album ini, dan
kebetulan adalah fans Bon Jovi, pasti berharap keakraban Jon dan Richie bisa
terulang lagi seperti di lagu ini. Ahhhh Semoga…
Dari liriknya saja, kita akan tau tentang sebuah
optimisme akan janji kebahagiaan dikemudian hari. Dari sekian panjang
penderitaan akan ada saatnya sebuah cerita diakhiri dengan happy ending.
Jika saya sutradara mungkin saya akan menggamabarkan adegan perjuangan
berdarah-darah sepanjang film yang diakhiri happy ending di
sebuah pantai, lengkap dengan penari hula-hula (entah kenapa bagian ini perlu
ada) dan bintang utamanya sedang berbaring menatap sunset. Oh iya
lengkap dengan jus buah dari buah tropis ditangannya. Yaph saya mencontek
adegan-adegan di Repo Men-nya Jude Law itu.
Kembali ke lagu tadi. Di part awal,
lewat suara khasnya Jon bercerita tentang suramnya kehidupan tokoh Billy Jean
dan Jim.
Hey, my name is Jim, where did I go wrong
My life's a bargain basement, all the good
shit's gone
I just can't hold ajob, where do I belong
I'm sleeping in my car,my dreams move on
My name is Billy Jean,my love was bought and sold
I'm only sixteen, Ifeel a hundred years old
My foster daddy went,took my innocence away
The street life aintmuch better, but at least I
get paid
Bukan happy ending yang
maksimal sich yah. Kebahagiaann yang Jon ceritakan hanya
digambarkan secara eksplisit. Jim tidur di mobilnya dengan mimpinya yang
bertualang dan Billy tetap bisa hidup dengan cukup walaupun harus manjual
“mahkotanya”. Iyahhhh… Paradokssss Abessss.
Yahhhh…
Saya setuju dengan cerita “Happy Ending
Wanna be” ala Jon itu, tapi bagian yang membuat saya tertarik adalah
bagaimana Jon menganalogikan penantian kebahagiaan dengan cerita penantian dari
awal minggu yang membosankan sampai akhir minggu yang menjadi sebuah surga.
Bukan saya tidak peduli dengan isu tentang kemanusiaan,tapi ijinkan saya
memakai lagu ini sebagai media curhat.
Dari part awal saja Jon sudah
bercerita bagaimana membosankannya hari senin dan harapan akan kebahagiaan di
akhir minggu.
Hey, man I'm alive I'm takin' each day and night
at a time
I'm feelin' like aMonday but someday I'll be
Saturday night
Setuju atau tidak, jujur atau tidak kita yang akhirnya
“harus” menghabiskan waktu untuk mencari sebuah rejeki pasti akrab dengan
kejenuhan selama seminggu, dan akhirnya menunggu surga diakhir
minggu untuk merefresh segala kepenatan. Sesuka apapun kita dengan pekerjaan
kita, kadang cerita tentang kepenatan dan kebosanan agak susah disangkal. Iya
gag sech???
Setelah diawal lagu Jon bercerita tentang
suramnya hidup Billie dan Jim, baru di bagian bridge, sebelum chorus inilah
analogi membosankan awal minggu sampai akhir minggu ia ceritakan.
And Tuesday just might go my way
It can't get worse than yesterday
Thursdays, Friday sain't been kind
But somehow I'll survive
Tapi sepeti Jon yang biasanya, dia jarang sekali
(bahkan tidak pernah, menurut saya) bercerita tentang menyerah. Bagian “But
somehow I’ll survive” menjadi upercut telak, tiap
kali sisi cengeng saya akan kejenuhan dan kebosanan menyerang. Bagaimanapun
lelahnya kita, bertahan adalah satu-satunya jalan. Saya sendiri tidak
mendapatkan sebuah part yang menjelaskan bahwa “menyerah adalah alternatif
lain. Di bagian chorus baik pertama atau kedua Jon malah menegaskan lagi
“keharusan” untuk bertahan. Yahhhh… Walaupun stadium bosan dan
jenuh itu sudah sampai di tingkat lima sekalipun. (biasanya ditandai dengan
seringnya menguap dan tidur dikantor, yahhhh itu saya :P). Coba baca lirik ini.
Like I ain't got nothin' but this roll of the
dice
I'm feelin' like a Monday, but someday I'll be
Saturday night
I'm gonna pick up all the pieces and what's
left of my pride
I'm feelin' like a Monday, but someday I'll be
Saturday night
Lalu setelah kita sampai disurga diakhir minggu,
kemudian berhentikah sampai disitu sebuah cerita bahagia. Yah enggaklah,
setelah hari minggu mau tidak mau kita harus kembali ke hari senin lagi. Kita
harus kembali lagi ke awal minggu untuk “bekerja keras” yahhh bukankah memang
begitu siklus hidup manusia. Saat kita sudah sampai di satu kebahagiaan kita
harus kembali lagi berjuang untuk sebuah cerita yang baru.
Yah sekali lagi, maafkan kesok tauan saya yang
berusaha memberi makna cerita tentang lagi ini. Dengan refrensi bahasa
Indonesia saya yang pas-pasan ditambah bahasa inggris yang tidak jauh lebih
baik, saya cuman ingin bercurhat ria dengan media lagu ini.
Have a nice weekend
Di Akhir pekan…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar