Bagi saya, sepakbola itu soal romansa dan cerita
tentang anak manusia. Tsahhhh...
Tapi memang begitu kenyataannya, saya tidak begitu
tertarik atau lebih tepatnya tidak “pantas” bercerita tentang statistik
sepakbola. Berapa rasio gol atau berapa presentasi sundulan atau
presentasi gol dimenit-menit tertentu dan bla bla bla lain
yang memerlukan ketelitan dan perhatian.
Pekerjaan saya yang ah gitulah dan
otak saya cetek tidak cocok dipadukan untuk merepresentasikan
sepakbola dalam angka dan rasio.
Saya juga berpendapat mereka-mereka yang “mahir
berbicara” rasio akhirnya jadi merasa pintar dan merasa apa yang mereka
hitungkan lebih benar dari yang lain. Akhirnya debat-debat di media
sosial semacam jadi pembuktian "ini nih yang aku catat lebih
benar".
Tapi sekali lagi saya tidak akan teralalu
mempersalahkan tipe “maniak bola” yang seperti itu, seperti
yang saya ceritakan disini, saya lebih benci dengan
mereka yang sok mengerti dan tidak punya pengakuan apa-apa yang sibuk ribut
dan mencela di media sosial. Golongan yang kemudian saya berikan
julukan untuk Hooligan alay.
Oke kembali ke topik...
Karena Sepakbola itu soal romansa dan cerita anak
manusia, maka saya akan selalu ingat nostalgia saat tangis Bebeto pecah di
bangku cadangan di suatu malam di bulan Juli 1998. Malam itu Stade France
menjadi saksi keperkasaan sang Dewa bernama Zidane saat mengoyak gawang Claudio
Tafarel dua kali lewat sundulan. Masih belum... Manuel Petit
melengkapi derita pendukung Brazil malam itu. Ahhh iya saya
juga ikut menangis sendu kala itu.
Setelah bertahun-tahun kemudian, saat internet
mudah untuk diakses baru saya membaca tentang konspirasi bahwa Final kala itu
sengaja "dikorbankan" Brazil untuk gelar mudah di edisi berikutnya
dan hadiah untuk menyelenggarakan [utaran final 2014, kejadian sebenarnya
entahlah.
Pesta sepakbola dunia edisi 1998 adalah kali
pertama saya jatuh cinta dengan sepakbola. Sebelum-sebelumnya saya lebih sering
menangis saat ayah saya memutar televisi untuk menonton siaran bola.
Anak usia SD kelas tiga seperti saya mendadak
jadi hitz tentang sepakbola. Usia saya yang baru cukup untuk
menikmati sepakbola dari cerita orang saja, membuat saya menjatuhkan pilihan
untuk mendukung Brazil.
Kala itu di Jayapura, ada tiga tim besar yang
memiliki basis pendukung besar. Ketiga tim itu adalah Jerman, Belanda, dan
Brazil. Jadilah saya mendukung tim ketiga, karena diracuni sahabat-sahabat
kecil saya kala itu.
Tiap kali bermain bola kami selalu berdiskusi untuk
memerenakan tokoh siapa.
"Sa Ronaldo e".
"Oceph nanti ko Aldair saja"
Iyah dari kecilpun saya lebih sering bermain
sebagai pemain belakang, (posisi yang menurut sebagian besar kurang populer)
jadilah nama Aldair yang sering saya perankan kala itu.
Brazil yang kala itu dilatih salah satu legendanya
Mario Zagalo, datang dengan senjata lengkap. Nama-nama macam Ronaldo, Rivaldo,
Bebeto, dan Roberto Carlos masih gres-gresnya ditelinga kita. Saat itu ban
kapten masih dipegang oleh Carlos Dungga yang berkarir di klub Jubilo Iwata
(Saat itu Jepang sedang getol-getolnya memakai marquee player di
liganya)
Brazil sukses memulai laga awal dengan baik,
kemenangan yang sebenarnya tidak terlalu mudah. Waktu itu saya perlu menunggu
sampai menit ke 74 untuk menyaksikan kemenangan perdana Brazil di
penyisihan grup, gol yang datang dari pemain Skotlandia sendiri Tom Boyd.
Setelah itu Brazil sukses membekap Maroko, dan akhirnya harus puas menalan
kekalahan saat bersua jagoan-jagoan Skandinavia, Norwegia. Brazil harus menelan
pil pahit saat gol penalty Rekdal menutup laga dengan skor tipis 1-2.
Setelah penyisihan grup yang tidak begitu mulus,
berturut-turut Brazil sukses memulangkan Marcelo Salas dan Ivan Zamorano Cs
(Chile) di perdelapan final dan Denmark perempat final. Setelah
pertandingan lumayan berat melawan Denmark (Brazil harus ketinggalan dua kali
sebelum akhirnya Rivaldo membawa Seleaco ke semifinal dengan gol ketiganya),
Pertandingan yang tak kalah berat menanti di semifinal. Lawannya Oranje yang
kala itu dikomandoi De Boer bersaudara, Kluivert, dan Flying
Deutchman Dennis Bergkamp.
Bertemu Juara tanpa mahkota di semifinal, semacam
takdir. Saat itu dua kutub sepakbola paling atraktif harus beradu. Brazil
dengan jogo bonitonya dan Belanda dengan Tottal Footbalnya. Pertandingan yang
terasa seperti "tanpa nafas", 2x45 menit plus dua kali extra time
terasa begitu cepat.
Kedua tim seperti tidak peduli dengan pertahanan,
sepertinya kedua tim semacam sepakat untuk bicara “beknya kita suruh tidur
saja, biar kita sama-sama menyarang”, walaupun toh akhirnya skor di
pertandingan normal tetap seri 1-1. Brazil kala itu unggul lebih dulu dengan
gol Ronaldo baru kemudian disamakan lewat si jangkung Kluivert. Buat saya
pertandingan itu termasuk pertandingan terbaik dalam sejarah Piala Dunia yang
mulai saya ikuti dari edisi 1998.
Lalu sampailah kita di final. Dan... dengan segala
hormat ijinkan saya untuk tidak menceritan cerita lebih detail tentang malam
“sedih” itu, twist saya diawal tadi sekiranya cukup untuk menggambarkan betapa
sedihnya saya malam itu.
2014...
Sejauh ini Brazil sudah sampai di semifinal. Dengan
segala keterbatasannya, mereka tetaplah tim spesial atas nama romansa didalam
hati saya.
Praktis ini adalah tahun terbaik mereka setelah
juara 2002 lewat dua gol si Kuncung. Edisi 2006 di Jerman saya harus tertunduk
lesu saat gol tunggal Henry memulangkan kami di perempat final, dua penyihir
Brazil saat itu Kaka dan Ronaldinho tidak mampu membuat banyak keajaiban.
Sementara edisi 2010 saya harus puas melihat gol Sneijder membalikan keadaan
setelah unggul lewat Robinho.
Nb : saya saat itu sedang diopname karena DB, dan
langsung membanting tempat makanan saat menyaksikannya dari kamar
Oke... mari kita lihat cerita di 2014
Skenario apa yang lebih buruk dari kehilangan dua
nafas utama di pertandingan semifinal melawan tim yang lagi gres-gresnya tahun
ini. Ditambah fakta Kekasih saya pendukung setia Jerman (yahhhh tak apalah
empat tahun sekali kami berdebat soal tim idola, sisanya toh kami sama-sama
pendukung United).
Brazil tidak punya kartu as lain selain Neymar.
Akhirnya saya hanya bisa berharap lahirnya Garincha baru di tim edisi 2014 ini.
Brazil pernah mengalami hal serupa, saat Pele harus mengakhiri Piala Dunia 1962
lebih cepat, Garincha yang membawa terbang Brazil di perjalanan sisanya).
Apapaun skenario terburuknya toh saya tetap
bertahan atas nama nostalgia, tiap kali pesta emapt tahun ini berlangsung.
Saya akan selalu ingat Saat edisi 2002, saat tangis
bahagia saya ikut mengantarkan Cafu yang berdiri gagah mengangkat Trophy
kelima. Kemudian, ditahun-tahun berikutnya saya tetap kembali mendukung tim
yang harus puas finish di perempat final.
Malam ini saya kan tetap mendukung
selecao, apapun hasilnya apapun skenarionya.
Beberapa jam sebelum Kick Off Brazil Vs Jerman
