Selasa, 08 Juli 2014

Pendukung Brazil... Romansa Masa Kecil



Bagi saya, sepakbola itu soal romansa dan cerita tentang anak manusia. Tsahhhh...

Tapi memang begitu kenyataannya, saya tidak begitu tertarik atau lebih tepatnya tidak “pantas” bercerita tentang statistik sepakbola. Berapa rasio gol atau berapa  presentasi sundulan atau presentasi gol dimenit-menit tertentu dan bla bla bla lain yang memerlukan ketelitan dan perhatian.
Pekerjaan saya yang ah gitulah dan otak saya cetek tidak cocok dipadukan untuk merepresentasikan sepakbola dalam angka dan rasio.

Saya juga berpendapat mereka-mereka yang “mahir berbicara” rasio akhirnya jadi merasa pintar dan merasa apa yang mereka hitungkan  lebih benar dari yang lain. Akhirnya debat-debat di media sosial semacam jadi pembuktian "ini nih yang aku catat lebih benar".

Tapi sekali lagi saya tidak akan teralalu mempersalahkan tipe “maniak bola” yang seperti itu, seperti yang saya ceritakan disini, saya lebih benci dengan mereka yang sok mengerti dan tidak punya pengakuan apa-apa yang sibuk ribut dan mencela di media sosial. Golongan yang kemudian saya berikan julukan untuk Hooligan alay.

Oke kembali ke topik...

Karena Sepakbola itu soal romansa dan cerita anak manusia, maka saya akan selalu ingat nostalgia saat tangis Bebeto pecah di bangku cadangan di suatu malam di bulan Juli 1998. Malam itu Stade France menjadi saksi keperkasaan sang Dewa bernama Zidane saat mengoyak gawang Claudio Tafarel dua kali lewat sundulan. Masih belum... Manuel Petit melengkapi derita pendukung Brazil malam itu. Ahhh iya saya juga ikut menangis sendu kala itu. 

Setelah bertahun-tahun kemudian, saat internet mudah untuk diakses baru saya membaca tentang konspirasi bahwa Final kala itu sengaja "dikorbankan" Brazil untuk gelar mudah di edisi berikutnya dan hadiah untuk menyelenggarakan [utaran final 2014, kejadian sebenarnya entahlah.

Pesta sepakbola dunia edisi 1998 adalah kali pertama saya jatuh cinta dengan sepakbola. Sebelum-sebelumnya saya lebih sering menangis saat ayah saya memutar televisi untuk menonton siaran bola.

Anak usia SD kelas tiga seperti saya mendadak jadi hitz  tentang sepakbola. Usia saya yang baru cukup untuk menikmati sepakbola dari cerita orang saja, membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mendukung Brazil. 

Kala itu di Jayapura, ada tiga tim besar yang memiliki basis pendukung besar. Ketiga tim itu adalah Jerman, Belanda, dan Brazil. Jadilah saya mendukung tim ketiga, karena diracuni sahabat-sahabat kecil saya kala itu.

Tiap kali bermain bola kami selalu berdiskusi untuk memerenakan tokoh siapa.

"Sa Ronaldo e".
"Oceph nanti ko Aldair saja"
Iyah dari kecilpun saya lebih sering bermain sebagai pemain belakang, (posisi yang menurut sebagian besar kurang populer) jadilah nama Aldair yang sering saya perankan kala itu.

Brazil yang kala itu dilatih salah satu legendanya Mario Zagalo, datang dengan senjata lengkap. Nama-nama macam Ronaldo, Rivaldo, Bebeto, dan Roberto Carlos masih gres-gresnya ditelinga kita. Saat itu ban kapten masih dipegang oleh Carlos Dungga yang berkarir di klub Jubilo Iwata (Saat itu Jepang sedang getol-getolnya memakai marquee player di liganya)

Brazil sukses memulai laga awal dengan baik, kemenangan yang sebenarnya tidak terlalu mudah. Waktu itu saya perlu menunggu sampai menit ke 74  untuk menyaksikan kemenangan perdana Brazil di penyisihan grup, gol yang datang dari pemain Skotlandia sendiri Tom Boyd. Setelah itu Brazil sukses membekap Maroko, dan akhirnya harus puas menalan kekalahan saat bersua jagoan-jagoan Skandinavia, Norwegia. Brazil harus menelan pil pahit saat gol penalty Rekdal menutup laga dengan skor tipis 1-2.

Setelah penyisihan grup yang tidak begitu mulus, berturut-turut Brazil sukses memulangkan Marcelo Salas dan Ivan Zamorano Cs (Chile) di perdelapan final dan  Denmark perempat final. Setelah pertandingan lumayan berat melawan Denmark (Brazil harus ketinggalan dua kali sebelum akhirnya Rivaldo membawa Seleaco ke semifinal dengan gol ketiganya), Pertandingan yang tak kalah berat menanti di semifinal. Lawannya Oranje yang kala itu dikomandoi De Boer bersaudara, Kluivert, dan Flying Deutchman Dennis Bergkamp.

Bertemu Juara tanpa mahkota di semifinal, semacam takdir. Saat itu dua kutub sepakbola paling atraktif harus beradu. Brazil dengan jogo bonitonya dan Belanda dengan Tottal Footbalnya. Pertandingan yang terasa seperti "tanpa nafas", 2x45 menit plus dua kali extra time terasa  begitu cepat. 

Kedua tim seperti tidak peduli dengan pertahanan, sepertinya kedua tim semacam sepakat untuk bicara “beknya kita suruh tidur saja, biar kita sama-sama menyarang”, walaupun toh akhirnya skor di pertandingan normal tetap seri 1-1. Brazil kala itu unggul lebih dulu dengan gol Ronaldo baru kemudian disamakan lewat si jangkung Kluivert. Buat saya pertandingan itu termasuk pertandingan terbaik dalam sejarah Piala Dunia yang mulai saya ikuti dari edisi 1998.

Lalu sampailah kita di final. Dan... dengan segala hormat ijinkan saya untuk tidak menceritan cerita lebih detail tentang malam “sedih” itu, twist saya diawal tadi sekiranya cukup untuk menggambarkan betapa sedihnya saya malam itu.

2014...

Sejauh ini Brazil sudah sampai di semifinal. Dengan segala keterbatasannya, mereka tetaplah tim spesial atas nama romansa didalam hati saya. 

Praktis ini adalah tahun terbaik mereka setelah juara 2002 lewat dua gol si Kuncung. Edisi 2006 di Jerman saya harus tertunduk lesu saat gol tunggal Henry memulangkan kami di perempat final, dua penyihir Brazil saat itu Kaka dan Ronaldinho tidak mampu membuat banyak keajaiban. Sementara edisi 2010 saya harus puas melihat gol Sneijder membalikan keadaan setelah unggul lewat Robinho. 

Nb : saya saat itu sedang diopname karena DB, dan langsung membanting tempat makanan saat menyaksikannya dari kamar

Oke... mari kita lihat cerita di 2014 

Skenario apa yang lebih buruk dari kehilangan dua nafas utama di pertandingan semifinal melawan tim yang lagi gres-gresnya tahun ini. Ditambah fakta Kekasih saya pendukung setia Jerman (yahhhh tak apalah empat tahun sekali kami berdebat soal tim idola, sisanya toh kami sama-sama pendukung United). 

Brazil tidak punya kartu as lain selain Neymar. Akhirnya saya hanya bisa berharap lahirnya Garincha baru di tim edisi 2014 ini. Brazil pernah mengalami hal serupa, saat Pele harus mengakhiri Piala Dunia 1962 lebih cepat, Garincha yang membawa terbang Brazil di perjalanan sisanya).

Apapaun skenario terburuknya toh saya tetap bertahan atas nama nostalgia, tiap kali pesta emapt tahun ini berlangsung. 

Saya akan selalu ingat Saat edisi 2002, saat tangis bahagia saya ikut mengantarkan Cafu yang berdiri gagah mengangkat Trophy kelima. Kemudian, ditahun-tahun berikutnya saya tetap kembali mendukung tim yang harus puas finish di perempat final.
Malam ini saya kan tetap mendukung selecao, apapun hasilnya apapun skenarionya.




Beberapa jam sebelum Kick Off Brazil Vs Jerman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise