Traveling is the best education. It teaches tolerance and
understanding
Bert Trautmann
Saya yakin sebagian besar dari kita akan asing dengan nama
Bert Trautman, ahhh saya tidak kaget bahkan mereka
yang mengaku fans sejati Manchseter City saja sebagian besarnya pasti tidak
mengenal nama ini. Setelah tau nama Bert Trautmann tanggapan berikutnya adalah
bingung melihat saya mengkutip quotes legenda Manchester City itu tapi dengan
post gambar Bakso. Yo Ben...
Sebenarnya saya pun baru mengenal nama ini saat membaca
Buku Big Pang Theory milik Pangeran Siahaan. Tapi tak apalah, saya toh
saya tetap terselamatkan karena tidak mangaku sebagai fans Manchester City.
Ahhhh sudahlah,
semakin sinis saja mereka bakal mencap saya sensi karena perbedaan
mencolok di papan klasmen musim kemaren. Asemmmm….
Cerita saya ini bukan ditujukan untuk bersinis ria terhadap
fans atau glory huntersnya Manchester City. Quotes dari
legenda mereka yang saya kutip diatas itulah yang akan saya bahas. Tentang
traveling, tentang toleransi.
Jangan bayangkan saya akan bercerita tentang toleransi
beragama yang sampai sekarang masih menjadi topic yang sama peliknya
dengan kisruh kekalahan di Pilpres plus Pilkada masih ditambah lagi ribut-ribut
RUU PILKADA tak langsung dari orang yang sama, iyaaaahhh Pak Wowo dkk. Urusan
itu biar para ahli dan agamawan ataupun yang mengaku mengerti agama saja
yang menjelaskannya, saya cukup bercerita tentang toleransi kebernaekaragaman
selera nusantara saja, otal saya ra
nyandak mau bahas begituan.
Sore itu, setelah ngobrol ngalor ngidul
tentang pekerjaan, gaji dan bla bla bla bahasan apalagi
yang lebih menarik ketimbang bermenye-menye tentang asmara
dan akhirnya membahas soal makanan. Lalu dimulailah sebuah komedi
yang membuat saya merasa perlu menertawakan, betapa
lucunya statement teman saya sore itu.
Kebetulan sore itu yang kita bahasa adalah makanan merakyat
bernama Bakso. Teman saya tadi mengeluarkan statement bahwa Bakso paling enak
adalah di Bandung, duerrr kemudian saya tertawa dan berusaha
menanyakan alasannya. Dan... jawabannya seperti agen MLM yang
khatam menjelaskan, tentang sitem downline dan kapal pesiar, tetapi selalu
kesulitan bercerita tentang kelebihan
produknya. “Pokoknya bakso paling enak di bandung” begitu
jawabnya dengan nada yah
begitulah.
Saya kemudian tertawa sinis. Kemudian teringat sahabat
saya lainya yang juga menyatakan bahwa bakso paling enak adalah di
Atambua, waktu itu dia punya alasan yang yah kurang lebihnya sedikit masuk akal
“Karena Atambua merupakan tempat peternakan sapi yang besar. Tetapi
kalimat berikutnya yang membuat saya menjadi geli dan lucu, “Disana bakso tidak
pake tepung sama sekali, daging semua”. Tolong jelaskan bagaimana bakso
jadi-jadian itu bisa dibuat. Bagaimana mungkin daging bisa berbentuk bulat
tanpa dicampur tepung, sedikitpun.
Lalu lucunya dimana? Tiap orang punya hak toh buat
berpendapat. Tentu saja, tapi jika statement itu keluar dari mereka-mereka yang
sepanjang hidupnya memikiki cv tempat tinggal dan treveling
disitu-situ saja, seperti katak dalam tempurung. Homo Sapiens model
begini agak menggelikan buat saya, mereka yang hanya tau tempat yang ditempati,
lalu mencap jelek dunia diluar lebih jelek dari tempurung sempit dan kecil
yang ditempati. Funny...
Kedua teman saya tadi masuk dalam kategori pribahasa
itu Hampir seumur hidup mereka hanya dihabiskan di dua
tempat yaitu tempat sekarang, kemudian Bandung dan Atambua sebagai
tempat lahirnya. Traveling? Yah saya berulang kali mendengar cerita mereka yang
mengeluh karena tidak sempat berlibur. Yah tak apalah transit saat naik kereta
apai atau pesawat dihitung.
Bagaimana mungkin kita bisa menilai dengan jernih ketika refrensi
kita sebagai dasar buat mengambil keputusan sesempit itu. Saya yakin
teman-teman saya lainnya yang semodel akan dengan lantang bersuara Bakso paling
enak di Medan atau Papua. Lucu. Kenapa tidak bilang Bakso paling enak
ada di Tiongkok sana sebagai asal mula makanan ini.
Kemudian saya sadar, refrensi coto
makasar, gudeg ataupun papeda sekalipun akan lebih enak di
Bandung atau Atambua, jika memang refrensi traveling mereka yah hanya
disitu . Mereka yang belum pernah menikmati Pizza langsung di negaranya
Fransesco Totti akan dengan sombongnya merasa Pizza paling enak ada
di kampung halamannya, lalu Federico Failla akan tertawa terbahak-bahak
mendengar statement itu. Saya yakin tidak sedikit diantara kita memiliki
status yang sama tapi sok tau tentang Makanan paling enak.
Masalah utamanya sebenarnya adalah soal selera, kadang
selera di tempat asal kita-lah yang sesuai dengan selera yang kita harapkan.
Kita tidak dapat memungkiri, makanan apapun saat berkuluturasi dengan selera
lokal akan menyesuikan dengan lidah lokal, logikanya Makanan Padang yang
aslinya pedas akan menjadi manis saat dijual di Jogja, tidak banyak yang mau
mengambil resiko dengan bertahan pada citarasa asal, kemudian merugi. Memang
tidak semua akan tetapi sebagian besarnya seperti itu, menurut saya.
Jika logikanya seperti yang saya ceritakan diatas kenapa
kalimatnya tidak diubah dengan “Bakso yang sesuai selera saya yah di Bandung
atau Atambua” beres, jadi tidak terkesan bahwa bakso di tempat lain itu tidak
enak.
Mereka yang kebetulan membaca tulisan ini pasti akan
berpikir bahwa saya hanya pengangguran yang kebanyakan waktu luang untuk
berdebat masalah selera. Tapi percaya deh, bagaimana kita bisa menghargai
kebernekaragaman suku bangsa, kalu refrensi urusan perut saja kita masih
sombong dan angkuh untuk sekedar mengakuinya. Lebay memang kalau membandingkan
toleransi kultural dengan toleransi keberanekaragaman makanan, tapi saya toh
tetap percaya tentang itu.
Sering seringlah piknik, pecahkan sedikit tabungan untuk
menikati keanekaragaman, tempat kita berpijak ini. Ketimbang menutup diri
dan menjadikan Korea sebagai destinasi wisata, wisata operasi plastik. Bukan
saya menjudge pemandangan disana tidak bagus (saya pernah mendapat oleh-oleh
asli Korea dan melihat pemandangan alam Luar biasa disana), tapi saya berani
bertaruh sebgain besar dari mereka yang menjadikan negara ini sebagai
destinasi, pasti ingin melihat sekumpulan pria metroseksual berpipi tirus
keluyuran sambil berucap “anang haseyo” atau “anang
hermansyah”
Lalu saya ganggu sahabat saya tadi
"Sudah pernah makan papeda"
"Sudah" jawabnya
"Pasti Papeda paling enak ada di Bandung
yah" sembari tertawa sinis.
Untung dia hanya terdiam sambil mesem, jika memang mereka menjawab iya itu
bahkan komedi yang jauh lebih lucu ketimbang tradisi siram tepung di salah satu
sitkom di televisi swasta itu.

