Sabtu, 27 September 2014

Bakso...


Traveling is the best education. It teaches tolerance and understanding
Bert Trautmann

Saya yakin sebagian besar dari kita akan asing dengan nama Bert Trautman, ahhh saya tidak kaget bahkan mereka yang mengaku fans sejati Manchseter City saja sebagian besarnya pasti tidak mengenal nama ini. Setelah tau nama Bert Trautmann tanggapan berikutnya adalah bingung melihat saya mengkutip quotes legenda Manchester City itu tapi dengan post gambar Bakso. Yo Ben...

Sebenarnya saya pun baru mengenal nama ini saat membaca Buku Big Pang Theory milik Pangeran Siahaan. Tapi tak apalah, saya toh saya tetap terselamatkan karena tidak mangaku sebagai fans Manchester City.

Ahhhh sudahlah, semakin sinis saja mereka bakal mencap saya sensi karena perbedaan mencolok di papan klasmen musim kemaren. Asemmmm….

Cerita saya ini bukan ditujukan untuk bersinis ria terhadap fans atau glory huntersnya Manchester City. Quotes dari legenda mereka yang saya kutip diatas itulah yang akan saya bahas. Tentang traveling, tentang toleransi.

Jangan bayangkan saya akan bercerita tentang toleransi beragama yang sampai sekarang masih menjadi topic yang sama peliknya dengan kisruh kekalahan di Pilpres plus Pilkada masih ditambah lagi ribut-ribut RUU PILKADA tak langsung dari orang yang sama, iyaaaahhh Pak Wowo dkk. Urusan itu biar para ahli dan agamawan ataupun yang mengaku mengerti agama saja yang menjelaskannya, saya cukup bercerita tentang toleransi kebernaekaragaman selera nusantara saja, otal saya ra nyandak mau bahas begituan.

Sore itu, setelah ngobrol ngalor ngidul tentang pekerjaan, gaji dan bla bla bla bahasan apalagi yang lebih menarik ketimbang bermenye-menye tentang asmara dan akhirnya membahas soal makanan. Lalu dimulailah sebuah komedi yang membuat saya merasa perlu menertawakan, betapa lucunya statement teman saya sore itu.

Kebetulan sore itu yang kita bahasa adalah makanan merakyat bernama Bakso. Teman saya tadi mengeluarkan statement bahwa Bakso paling enak adalah di Bandung, duerrr kemudian saya tertawa dan berusaha menanyakan alasannya. Dan... jawabannya seperti agen MLM yang khatam menjelaskan, tentang sitem downline dan kapal pesiar, tetapi selalu kesulitan bercerita tentang kelebihan produknya. “Pokoknya bakso paling enak di bandung” begitu jawabnya dengan nada yah begitulah.

Saya kemudian tertawa sinis. Kemudian teringat sahabat saya lainya yang juga menyatakan bahwa bakso paling enak adalah di Atambua, waktu itu dia punya alasan yang yah kurang lebihnya sedikit masuk akal “Karena Atambua merupakan tempat peternakan sapi yang besar. Tetapi kalimat berikutnya yang membuat saya menjadi geli dan lucu, “Disana bakso tidak pake tepung sama sekali, daging semua”. Tolong jelaskan bagaimana bakso jadi-jadian itu bisa dibuat. Bagaimana mungkin daging bisa berbentuk bulat tanpa dicampur tepung, sedikitpun.

Lalu lucunya dimana? Tiap orang punya hak toh buat berpendapat. Tentu saja, tapi jika statement itu keluar dari mereka-mereka yang sepanjang hidupnya  memikiki cv tempat tinggal dan treveling  disitu-situ saja, seperti katak dalam tempurung. Homo Sapiens model begini agak menggelikan buat saya, mereka yang hanya tau tempat yang ditempati, lalu mencap jelek dunia diluar lebih jelek dari tempurung sempit dan kecil yang ditempati. Funny...

Kedua teman saya tadi masuk dalam kategori pribahasa itu Hampir seumur hidup mereka hanya dihabiskan di dua tempat yaitu tempat sekarang, kemudian Bandung dan Atambua sebagai tempat lahirnya. Traveling? Yah saya berulang kali mendengar cerita mereka yang mengeluh karena tidak sempat berlibur. Yah tak apalah transit saat naik kereta apai atau pesawat dihitung.

Bagaimana mungkin kita bisa menilai dengan jernih ketika refrensi kita sebagai dasar buat mengambil keputusan sesempit itu. Saya yakin teman-teman saya lainnya yang semodel akan dengan lantang bersuara Bakso paling enak di Medan atau Papua. Lucu. Kenapa tidak bilang Bakso paling enak ada di Tiongkok sana sebagai asal mula makanan ini.

Kemudian saya sadar,  refrensi  coto makasar, gudeg ataupun papeda sekalipun akan lebih enak di Bandung atau Atambua, jika memang refrensi traveling mereka yah hanya disitu . Mereka yang belum pernah menikmati Pizza langsung di negaranya Fransesco Totti akan dengan sombongnya merasa Pizza paling enak ada di kampung halamannya, lalu Federico Failla akan tertawa terbahak-bahak mendengar statement itu. Saya yakin tidak sedikit diantara kita memiliki status yang sama tapi sok tau tentang Makanan paling enak.

Masalah utamanya sebenarnya adalah soal selera, kadang selera di tempat asal kita-lah yang sesuai dengan selera yang kita harapkan. Kita tidak dapat memungkiri, makanan apapun saat berkuluturasi dengan selera lokal akan menyesuikan dengan lidah lokal, logikanya Makanan Padang yang aslinya pedas akan menjadi manis saat dijual di Jogja, tidak banyak yang mau mengambil resiko dengan bertahan pada citarasa asal, kemudian merugi. Memang tidak semua akan tetapi sebagian besarnya seperti itu, menurut saya.

Jika logikanya seperti yang saya ceritakan diatas kenapa kalimatnya tidak diubah dengan “Bakso yang sesuai selera saya yah di Bandung atau Atambua” beres, jadi tidak terkesan bahwa bakso di tempat lain itu tidak enak.

Mereka yang kebetulan membaca tulisan ini pasti akan berpikir bahwa saya hanya pengangguran yang kebanyakan waktu luang untuk berdebat masalah selera. Tapi percaya deh, bagaimana kita bisa menghargai kebernekaragaman suku bangsa, kalu refrensi urusan perut saja kita masih sombong dan angkuh untuk sekedar mengakuinya. Lebay memang kalau membandingkan toleransi kultural dengan toleransi keberanekaragaman makanan, tapi saya toh tetap percaya tentang itu.

Sering seringlah piknik, pecahkan sedikit tabungan untuk menikati keanekaragaman, tempat kita berpijak ini. Ketimbang menutup diri dan menjadikan Korea sebagai destinasi wisata, wisata operasi plastik. Bukan saya menjudge pemandangan disana tidak bagus (saya pernah mendapat oleh-oleh asli Korea dan melihat pemandangan alam Luar biasa disana), tapi saya berani bertaruh sebgain besar dari mereka yang menjadikan negara ini sebagai destinasi, pasti ingin melihat sekumpulan pria metroseksual berpipi tirus keluyuran sambil berucap “anang haseyo” atau “anang hermansyah”

Lalu saya ganggu sahabat saya tadi 

"Sudah pernah makan papeda"

"Sudah" jawabnya 
 "Pasti Papeda paling enak ada di Bandung yah" sembari tertawa sinis. 

Untung dia hanya terdiam sambil mesem, jika memang mereka menjawab iya itu bahkan komedi yang jauh lebih lucu ketimbang tradisi siram tepung di salah satu sitkom di televisi swasta itu. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise