Ingat...
Kita itu kopi susu...
Saat kopi disajikan hitam dan pekat, kopi
tak ubahnya racun delusional berbentuk minuman yang mampu memantik
adrenalin tapi perlahan menggerogoti lambung dan sel saraf lainya.
Tetapi saat Saat susu datang dan bersenyawa,
kopi yang punya efek negatif mendapatkan partner untuk menyuntikan adrenalin
tanpa perlu sepenuhnya merusak lambung dan sel saraf. Susu dan kopi sama-sama
bersinergi membuka mata yang mengantuk dihadapan laporan yang menumpuk, atau
sekedar menambah adrenalin bagi pecinta bola yang kebetulan sedang membuka
mata, menanti tim kesayangannya berlaga.
Lalu apakah racun di kopi sepenuhnya hilang, atau lemak
pada susu tak lagi menakutkan bagi diet obessed.
Tidak...
Di tiap tetesnya apapun itu, kopi akan tetap berpotensi
merusak lambung atau sel saraf lainya, di tiap tetesnya susu tetap punya
potensi membuat jarum timbangan berat badan menjadi pemandangan yang menakutkan.
Tapi tak peduli apapun itu, diantara segala zat
antah berantah yang tak aku pelajari semasa kuliah, penyebab naiknya
asam lambung ataupun lemak yang bertambah, kopi susu adalah minuman sederhana
penambah tenaga.
Tak perlu cafe yang makin menjamur dan susah disebutkan
namanya untuk mencari-nya, bahkan kopi susu ada di warung pinggir jalan tempat
aku menghabiskan senja mendengarkan orkestrasi klakson mobil dan motor
yang beradu saat terjebak macet.
Lalu biarkan segala cerita misteri yang tak dapat kita
pecah kan sama-sama mengendap seperti ampas yang ditinggalkan kopi susu. Kita
bahkan hanya manusia yang kadang meninggalakan sebuah misteri kehidupan yang
tak pernah terjawab sampai cerita kita didunia usai, sama dengan ampas minuman
itu.
Sederhana, apapun itu akan tetap ada kelemahan yang
berpotensi menyakitkan segala cerita kita, tapi diantara tiap kenikmatan sruputannya kita
belajar saling memaknai cerita.
Dear You, #Lovely
Yaswar au kaku...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar