Sabtu, 17 Januari 2015

Tentang Rindu

Jika rindu itu datang lagi, entah harus kujawab dan kusugahkan apa sebagai teman pengakrab. Nyatanya hampir ditiap kesempatan dia datang tanpa pernah sekedar permisi.

Andaikan dia ucapkan kata permisi, mungkin aku bisa sekedar menyiapkan secangkir kopi susu dan pisang rebus atau mandi sejenak sebelum merapikan kursi dan menanggapai segala ceritanya dengan senyum.

Tidak... tidak sama sekali, akhirnya saat dia datang tidak ada apa-apa yang bisa kusiapkan selain duduk dan menikmatinya bercerita. Saat kebetulan aku sedang siap, akan kutanggapi dengan senyuman sembari terkekeh-kekeh mendengar segala ceritanya tentangmu, tapi saat tidak, apalagi ekspresiku selain menghela nafas dan menyeka air mata rindu.

Berulang-ulang dia datang dan bercerita tentang senyummu, tentang parfum Paris Hilton-mu, tentang semua ucapan “R” yang tidak bisa kamu ucapkan dengan sempurna, tentang segala hal yang kurindukan darimu. Sampai akhirnya dia pergi sebentar, untuk mencari cerita baru. Seperti itu, terus berulang, seperti siklus banjir ibukota yang makin sulit diprediksi.

Pagi ini seperi biasanya dia berkunjung untuk berbagi kabar tentangmu, bercerita tentang senyum manis-mu melayani orang-orang yang datang ke meja teller, sambil bercerita tentang remeh temeh kehidupan. Entah subsidi BBM yang dicabut, ataupun penjual-penjual sayur di pasa Remu yang mulai susah ditawar, sampai anaknya yang baru saja minta dibelikan buku paket ataupun merengek dibelikan gadget terbaru. Atau mungkin kritik membangun tentang kacamata yang kebesaran seperti bapak-bapak paruh baya itu.

Cuman kamu... Memang tak ada yang lain, Ahh... dia memang tidak kreatif. Berulang kali kuperhatikan, pekerjaannya hanya memperhatikanmu saja. Atau memang cuman itu tugas dia? Ahh Sudahlah...

Salam buat kamu...

Alasanku merindu


Balikpapan 28 November 2014, menjelang subuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise