Jika rindu itu datang lagi, entah harus kujawab dan
kusugahkan apa sebagai teman pengakrab. Nyatanya hampir ditiap kesempatan dia
datang tanpa pernah sekedar permisi.
Andaikan dia ucapkan kata permisi, mungkin aku bisa sekedar
menyiapkan secangkir kopi susu dan pisang rebus atau mandi sejenak sebelum
merapikan kursi dan menanggapai segala ceritanya dengan senyum.
Tidak... tidak sama sekali, akhirnya saat dia datang tidak
ada apa-apa yang bisa kusiapkan selain duduk dan menikmatinya bercerita. Saat
kebetulan aku sedang siap, akan kutanggapi dengan senyuman sembari
terkekeh-kekeh mendengar segala ceritanya tentangmu, tapi saat tidak, apalagi
ekspresiku selain menghela nafas dan menyeka air mata rindu.
Berulang-ulang dia datang dan bercerita tentang senyummu,
tentang parfum Paris Hilton-mu, tentang semua ucapan “R” yang tidak bisa kamu
ucapkan dengan sempurna, tentang segala hal yang kurindukan darimu. Sampai
akhirnya dia pergi sebentar, untuk mencari cerita baru. Seperti itu, terus
berulang, seperti siklus banjir ibukota yang makin sulit diprediksi.
Pagi ini seperi biasanya dia berkunjung untuk berbagi kabar
tentangmu, bercerita tentang senyum manis-mu melayani orang-orang yang datang
ke meja teller, sambil bercerita tentang remeh temeh kehidupan. Entah subsidi
BBM yang dicabut, ataupun penjual-penjual sayur di pasa Remu yang mulai susah
ditawar, sampai anaknya yang baru saja minta dibelikan buku paket ataupun
merengek dibelikan gadget terbaru. Atau mungkin kritik membangun tentang
kacamata yang kebesaran seperti bapak-bapak paruh baya itu.
Cuman kamu... Memang tak ada yang lain, Ahh... dia memang
tidak kreatif. Berulang kali kuperhatikan, pekerjaannya hanya memperhatikanmu
saja. Atau memang cuman itu tugas dia? Ahh Sudahlah...
Salam buat kamu...
Alasanku merindu
Balikpapan 28 November 2014, menjelang subuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar