Sabtu, 24 Oktober 2015

Panduan terlihat keren di hari Sumpah Pemuda (Sebuah Tulisan Untuk Memahami Fenomena Ikut-Ikutan Rame)


Berdirinya bangsa ini tidak lepas dari sumbangsih para pemuda, kalau saja Jong Java, Jong Ambon Jong Sumatranen Bond, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen tidak kongkow-kongkow, ngopi-ngopi dan ngudut bareng di tanggal 28 Oktober 1928, maka sampai sekarang, bukan tidak mungkin persatuan dan kesatuan hanyalah dongeng belaka. makwow banget yah lead saya, yah supaya terlihat intelektual sedikit lah.

Tahun ini Bangsa kita tercinta akan merayakan kita merayakan Ulang Tahun Sumpah Pemuda yang ke 87. Luar Biasa sekali bukan, kongkow-kongkow, ngopi-ngopi dan ngudut bareng di tanggal 28 Oktober 1928, menghasilkan sebuah tonggak sejarah. Hey kalian para kongkowers, cobalah menghasilkan sesuatu selain cengegsan ngobrol nikahan Glenn Alienskie dan Chelsea Olivia sampai hidup orang sekitar yang menurut  sampeyan-sampeyan “perlu dibahas dan dibenahi”. Yahhh mungkin sampeyan merasa lebih baik dari mereka, seolah-olah sampeyan ciptaan Tuhan yang paling mulia, sementara mereka (yang digosipkan) hanyalah sekumpulan Homo Sapiens dengan proses metamorfosa tidak maksimal. Tapi yah mau apa lagi sich, kongkow-kongkow sambil ngegosipin yah dilindungi UUD juga sich, gag percaya coba baca UUD 1945 pasal 28 ayat E ayat 3, kalau gag tau isinya yah sudah saya turut berduka saja.

Sebagai pemuda harapan bangsa yang selalu gelisah akan keberlangsungan bangsa Indonesia, saya ingin sekali turut serta membagikan sesuatu untuk ikut serta merayakan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober besok. Tetapi mengingat saya tidak kapabel berbicara soal kebangsaan dan cerita tentang Negara yang gemah ripa loh jinawi ini, maka anggap saja cerita saya sekedar guyu-guyuan yang gag penting-penting ametlah. Jika kebetulan baik untuk dijalankan, jalankan tapi jika tidak yah moga-moga mau tetap dijalankan sembari berdoa semoga setelah menjalankan saran-saran saya, sampeyan tidak menjadi mudarat.

Jika sebelumnya saya hanya menulis kemudian disambung-sambungkan dengan Sumpah Pemuda, maka sekarang saya khusus menulis benar-benar untuk menyambut Sumpah Pemuda. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai manusia Indonesia yang hendak turut serta dalam revolusi mental (jiwa), dan tidak ingin menjadi oknum yang turut serta mensabotasenya menjadi revolusi mental (terpelanting).

Ditulisan sebelumnya saya menyuarakan kegundahan  dari orang yang menyaksikan fenomena "ikut-ikutan rame" yang sedang hitz dikalangan muda, nah sekarang ijinkan saya berlaku adil untuk memahami sudut pandang dari golongan pemuda yang melakukan hal itu. Biar bagaimanapun toh saya juga Rakyat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, dan sudah sepantasnya dan selayaknya turut serta mengamalkan Pancasila terutama sila ke 5 dalam kasus ini.

Saya kemaren menulis tentang bagaimana Miljenko Matijevic bernyanyi dengan nada getir untuk matinya idealisme kaum muda, dengan fenomena ikut-ikutan rame. Tapi untuk sekarang, mengingat kebutuhan terlihat keren jauh lebih primer daripada sok “ilmuis” memberi pandangan tentang idelalisme, biarkan dulu ia melanjutkan lagunya sampai selesai, lalu jika sudah selesai biarkan saja playlist itu berluang-ulang terus sampai Windows Media Player-nya eneg, dan entah dari mana keluar suara “Genti woyyy lagunya, bosennnnnn”.

Akhirnya saya sampai pada perenungan, bahwa tidaklah adil jika saya hanya menjudge sebagai pengamat saja, tentunya lebih fair jika segala sesuatunya dipandang dari dua sisi, dan sekali lagi sudah selayaknya saya juga memahami isi hati dari para pelakunya. Oleh karena itu, karena didorong oleh niat yang adiluhung dalam berlaku adil, maka saya coba membahasnya dan coba menunjukan hal yang menguntungkan dari dari fenomena-fenomena ini. Masalah mudarat atau tidak, seperti yang saya singgung diatas yah, nanti kita pikirkan lagi saja-lah, saat ini lebih mendesak “terlihat keren” ketimbang berbicara soal itu.

Kalau ada yang bertanya kenapa masih tanggal segini tapi saya sudah menuliskannya, alasannya ada dua. Pertama supaya yang membaca punya waktu lebih dari cukup untuk mengejar point-point yang akan saya sampaikan ini sebelum Sumpah Pemuda, kedua Sumpah Pemuda jatuh tepat diakhir bulan, saat itu fokus saya sudah terpecah antara berpikir kritis atau berpikir bagaimana gaji saya cukup sampai kabar gembira “saldo bertambah” muncul diponsel saya.

Berikut ini saya rangkumkan beberapa hal yang bisa dilakukan agar Sumpah Pemuda kali ini cukup berkesan bagi sampeyan semua, agar prestise diri dapat terjaga dengan konsisten dan maksimal. Yah moga-moga cukup lah yah. Jika semua ini tidak terlihat afdol, yah maafkan saya hanya mencoba menggali lebih dalam cara berpikir para hipster, yang sesungguhnya tidak bisa saya pahami.


1.      Pilih Gerakan Muda Yang Keliatan Makwow
Mulailah bergabung dengan komunitas yang memfasilitasi anggotanya untuk menyandang status “volunteer”, terutama kegiatan yang sangat concern terhadap isu-isu sensitif, Pendidikan, Alam, dan segala sesuatu yang sifatnya kebangsaan. Percayalah kata volunteer itu terdengar keren. Masalah prinsipil tentang esensinya, cukup jadi upil yang terlalu kecil buat dianggap penting, yang penting hype dulu, masalah isinya, nanti sajalah dipelajari atau tidak perlu dipelajari juga tidak apa-apa, terserah sampeyan sekalian.

Jangan lupa untuk mengambil sebanyak mungkin foto dengan alasan “dokumentasi kegiatan” tujuannya jelas menjaga konsistensi, dan sebagai media ekspresi diri serta pengakuan diri. Tanpa bukti dokumentasi, mana bisa sampeyan dicap keren. Ingat satu hal No Picture Hoax (even No Heart is Pathetic). Mau mulai dari mana jangan berpikir beratlah, sekarang komunitas-komunitas ini hampir pasti punya media sosial untuk menjalankan apa yang menjadi fokus gerakannya. Mudah khan, tidak perlu berpikir cerdas untuk melakukannya, sama seperti tidak perlu berpikir cerdas buat “Menggosipkan Orang”, baliiiii menehhhhhh cepppp.

2.      Tulislah Tagar Bla-bla sebagai butki bahwa kita peduli
Mumpung saat ini masih banyak fenomena sosial yang masih memfasilitasi nafsu kita buat mengetik #SaveBlaBlaBla, manfaatkanlah baik-baik. Tinggal pilih saja tema tertentu atau cerita-cerita media yang membesar-besarkan kejadian dengan latar pluralisme. Kalau nanti sudah tidak ada lagi sampeyan bakal kesulitan loh, karena satu point sudah berkurang. Sebagai contoh khan tidak lucu kalau kita mengketikan #SAVEParis saat tidak ada sesuatu yang perlu di save disana, kecuali menara Eiffel sudah mulai mengalami korosi, atau ujungnya jadi hilang karena dipakai George Cloney, Britt Robertson dan Raffey Cassidy  pergi ke Tomorrowland, uopooooohhhh

Sekali lagi tidak perlu peduli-peduli, atau ngerti-ngerti ametlah, yang penting berikan kesan mengerti dan peduli. Tidak perlu dengan bijak memahami tujuan baik yang bisa didapat dari aksi ini. Cukup buka status media sosial masing-masing dan mengetik #SaveBlaBlaBla, jangan lupa tambahkan sedikit kalimat-kalimat yang membakar semangat kepedulian, atau kalau terlalu susah link-kan saja beberapa situs media yang membahas itu, lakukanlah dengan sepenuh hati lalu perhatikan apa yang akan terjadi.

3.      Gabung-gabungkan antara Ketuhanan dengan Kebangsaan dan Berdoalah di Media Sosial.
Lewat hari Sumpah Pemuda semoga Tuhan mengetuk hati para pemuda agar masa depan bangsa menjadi lebih baik. Yah tulislah post-post sejenislah di akun FB, Path atau Twitter, tentu dengan fasilitas twitlonger atau akun-akun twitter yang bisa memfasilitasi tulisan lebih dari 140 karakter. Saran saya, apapun kalimatnya sampeyan harus tetap memakai kata Tuhan dan Indonesia sebagai kunci, kedua kata ini kombinasi yang maksimal agar ketenaran menjadi keniscayaan. Anak manusia mana yang tidak dicintai lawan maupun sesama jenis, jika taat ibadah dan berjiwa nasionalis tinggi.

Dalam sudut pandang ilmuis saya dan pengamatan saya, berdoa di media sosial lebih dari cukup menunjukan betapa kecenya kita, apalagi jika doa tersebut menyinggung fenomena-fenomena yang hangat. Pak Beye aja berdoa di twitter kog, masak sampeyan tidak mau ikut-ikutan. Untuk point ini sesekali sering saya lakukan, jatuhnya bukan doa sich, hanya sok-sokan puitis, yang saya namai "doa" biar kelihatan romantis. Saya sendiri tidak pandai merangkai kata-kata khusyuk buat Tuhan di media sosial. Kalau sampeyan sudah melakukan point nomer satu maka akan lebih makwow lagi jika kegiatan-kegiatan itu didoakan lewat media sosial sekali lagi jangan lupa tambahkan kata “Tuhan” dan “Bangsa” atau “Indonesia”, saya jamin like, RT, atau Repath hanya menunggu waktu.

4.      Pakailah Media Sosial dengan maksimal
Seperti yang sudah saya singgung sedikit hampir ditiap point diatas, sampeyan harus mahir memakai media sosial sebagai sarana promosi diri. Pahami waktu-waktu yang tepat untuk ngepost foto atau doa seperti yang saya tuliskan tadi. Jangan ngepost dijam-jam pengguna media sosial lagi seneng-senengnya mengumpat bos mereka di kantor atau sedang sibuk memposting Nasi Kucing via media sosial. Begini logikanya, saat sesorang perlu diperhatikan mana mau dia sibuk-sibuk memperhatikan sampeyan, yang juga butuh perhatian.

Kalau sampeyan-sampeyan masih tidak punya media sosial, atau media sosial sampeyan mentok di era friendster, yah sudahlah sampeyan semua percuma baca point-point yang sudah saya tuliskan diatas, tujuan sampeyan terlihat keren jelas sudah tidak tertolong. Mulai sekarang pergilah ke warnet terdekat dan minta tolong OP Warnet membantu membuatkan media sosial, banyak kog OP warnet yang mau.

5.      Carilah Pacar
Mblo mulailah nyari pacar mblo, gag usah mikir susah  mencari pacar yang sempurna semua bisa dimulai dengan mengembat gebetan orang, pacar orang atau istri orang (percayalah jika istri orang berhasil anda rebut, kece anda akan dikalikan dalam satuan kubik).  Keempat point diatas, jika dikombinasikan dengan “punya pacar” maka lengkaplah sudah hidup sampeyan sebagai Pemuda dan Pemudi Harapan Bangsa. Mulailah posting tulisan-tulisan “Jika diijinkan oleh Negara maka aku akan menambahkan satu lagi sumpah kedalam sumpah pemuda, Saya Pemuda dan Pemudi Indonesia berjanji, akan selalu menjaga hati pasangan masing-masing, dengan tulus dan ikhlas”, nah kurang makwow apa lagi. 



Yah demikian kelima point yang saya coba rangkumkan Oh iya Kelima poin diatas saya tulis berdasarkan observasi ngawur saya sebagai manusia kebanyakan gaya yang teramat perlu piknik. Jangan berharap saya melakukan kajian teoritis dan pengujian sampling dengan maksimal, lha wong waton njeplak e. Bagaimana dengan nilai positif yang bisa didapat dengan melakukan ini? yah jelas tidak ada. Salah sampeyan sendiri kalau akhirnya mau niru, hahahahahaha. Saya sendiri sudah mencoba memahami fenomena ini lebih dalam dari sudut pandang berlawanan dari pemikiran saya sebelumnya, dan semakin saya mencoba semakin bingunglah saya

Saat ini saya juga butuh terlihat keren, tapi saya gag cukup mahir buat memakai saran yang saya tulis sendiri, biar saya pakai style saya sendiri aja lah. Ahhhhh dasar pria tak bertangung jawab, bennn...




Salam...

Teruntuk Pemuda dan Pemudi, dan Pemuda yang berniat menjadi Pemudi atau siapa sajalah yang berjiwa muda.



Senin, 12 Oktober 2015

We all die young, Refleksi untuk volunteer dan hipster ala ala menyambut Sumpah Pemuda…

takken from http://weheartit.com/entry/group/6833800
Lagu ini salah satu "identitas" Steelheart yang buat saya salah satu satire terbesar yang mengusik kalbu, uopooooohhh ceph.  Lewat lagu ini Miljenko Matijevic cs,  bercerita tentang fenomena rockstar yang “pulang di usia muda”. Kombinasi antara stress dan drugs cukup membuat Janis Joplin, Amy Winehouse sampai bapak grunge dunia Curt Cobain, “abadi dalam  kemuliaannya”  dipuncak karir.

Tidak ada tulisan tersirat tentang fenomena “mati muda” para musisi itu, Lagu ini hanya disusun dari sekumpulan kalimat satir sebagai liriknya. Dan irama yang tidak terlalu ngebeat juga tidak terlalu mendayu-dayu,  tapi justru dengan begitu saya bisa menikmati dan menginterpretasikan dengan sejuta keliaran yang berkecamuk dikapala.

Kalau ditarik ke era sekarang saat  Super Junior, tidak juga kunjung naik ke level senior, agak susah atau jarang, mencari sinonim dari fenomena itu. Maka, ijinkan saya yang sering  sekali menyambung-nyambungkan sesuatu yang sebenarnya tidak nyambung dan tidak perlu disambung-sambungkan untuk bercerita lagu ini dari sudut pandang ilmuis saya.

Saya membayangkan Miljenko Matijevic dengan nada tinggi dan tatapan kosong melengkingkan kegundahannya atas matinya “idealisme anak muda”, abotttttt leeeee. Idealisme anak muda, supaya tidak sekedar ikut-ikutan rame akan sebuah fenomena, sementara esensinya yah cuman sampai di standar “sukur ngerti, enggak juga gag papa”. Seperti kata om Glenn Fredlly “Anak muda tanpa idelisme seperti zombie”. Yah walaupun dari sudut pandang fisiologi, zombie belum dikatakan mati, pokoknya yah disambung-sambungkan saja lah.

Beberapa hari lalu saya ikut sebuah talkshow kecil-kecilan bersama beberapa komunitas yang ada di Surabaya. Ada banyak ilmu dan pelajaran yang saya dapat kala itu, tapi ada satu hal yang membuat gelisah (geli-geli resah, kata sobat saya Alfred Abidondifu) dan terpancing buat menceritkannya disini.

Salah satu kordinator komunitas untuk gerakan tersebut di Surabaya menyampaikan kendala mereka dalam melakukan gerakan ini. “Kendala kami adalah setelah kegiatan besar, volunteer mulai hilang dan tidak semua volunteer yang memakai baju dengan label gerakan tersebut mengerti apa esensi dari kegiatan itu”. Satu-satunya yang mereka mengerti adalah kegiatan trademark  “mematikan lampu selama sejam”. Kemudian saya bandingkan dengan komunitas saya, dari sudut pandang saya sebagai intelektual muda harapan bangsa, “podoooo dab”. Masalah utamanya hanya “ikut-ikutan rame” ternyata.

Dalam kajian teoritis salah satu pakar Sosiologi Indonesia Den Loro Ra Mari-Mari dalam salah satu esainya yang berjudul “Manusia Muda Indonesia” yang tak pernah terbit karena tak pernah ada, dalam proses pencarian pengakuan diri, kadang esensi dan isi yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipahami, yang penting mboisss rek. Masalah prinsipil untuk mengerti atau tidak tujuannya, itu urusan nanti, yang penting keren dulu, nampang dulu, yang penting “ahhh sudahlah” saya tidak tega manambahkan sejuta tujuan lainya yang menurut saya lebih banyak mudaratnya.

Tapi ayolah mengaku… bagian mana yang tidak keren dari  memakai kata volunteer dan nampang di foto kegiatan dengan tujuannya jempol di FB atau RT di Twitter  yah syukur-syukur bisa naikin follower atau dapat komentar ihhh keren, dan mengundang satu lagi anak muda keren wanna be masuk kedalam lingkaran angkatan muda gaul Indonesia, sekali lagi tanpa perlu tau tujuan utamanya apa. Parahnya lagi, yah tetap tidak ada niat untuk memahami sambil berjalan, sekalipun sudah terlambat. Saya harus dengan pahit mengakui peribahasa “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” masih tetap penting untuk dipahami. Saya mulai dengan kenyataan ini, karena hal ini yang paling dekat dengan saya. Menggelikan dan menyedihkan.

Tapi untuk kasus ini, sekali lagi “daku mah apa atuh”, toh akhirnya kita tidak bisa melakukan scanning satu-satu terhadap rencana manusia-manusia itu sebelum bergabung, syukuri saja niat baik sekecil apapun. Syukuri saja, sebesar apa ukuran udang dibalik batunya, Entah lobster kelas restoran bintang lima, atau udang yang cuman cukup untuk bahan baku sebiji terasi. Bagi golongan jenis ini yang sudah keburu bergabung yah saya cuman bisa turut berkabung, sembari pelan-pelan melakukan penertiban dan sesekali sweeping dengan “Front Penertib Komunitas”, mang ada gitu?

Mari lanjut ke bukti berikut betapa fenomena “ikut-ikutan rame” ini begitu dalamnya menggerogoti jiwa muda Indonesia selain sejuta pengaruh buruk lainya.  Perhatikan foto ini



Apa yang aneh? sekilas memang tidak ada cenderung getir dari kegetiran itulah si pembuat karangan bunga mengais popularitas, berharap bisa mendapatkan sebuah “like” atau “RT” sebagai pembuktian betapa pahamnya dia tentang fenomena “ikut-ikutan rame” ini.

Kalau kita cukup paham history dari trend ini, yang beberapa bulan lalu cukup kece di media sosial ini, maka kita akan tau style beginian ini sekarang sudah terlalu enek buat ditampilkan, tapi toh tetap masih ada. Mungkin kebutuhan akan pujian dan "diperhatikan" sudah sampai di taraf radikal. Mereka tetap perlu menambahkan check list, “bikin gituan ahhh kalau nanti ada acara wisudaan”.

Kaka Lisa, saudari saya yang memposting foto ini dengan sedikit sarkastik menuliskan “eaaaa… basi ah, sekarang bikin ginian semua” dan saya setuju, bukannya ini salah satu bukti “idealisme untuk tidak ikut-ikutan rame” sudah benar-benar menyedihkan, jadi mari ambil jalan pintasnya, tiru saja lah mentah-mentah. Mungkin bisa sedikit terlihat keren, kalau media yang dipakai bukan lagi karangan bunga, misalkan gravity di tembok kampus atau di mobil rektor, cadassss men… ndiasssssmuuuuu cepppp.

Perlu contoh lagi, mari sama-sama coba jujur kedalam hati dan liat apakah nafsu kita untuk menuliskan tagar #SAVEblablabla apakah benar-benar peduli atau sekedar harapan ikut-ikutan rame, sekedar hype saja. Semua memang kembali ke kita sich.  Percaya atau tidak beberapa kerabat yang saya ajak diskusi tentang tagar yang baru saja diketik, justru tidak benar-benar mengerti, dan parahnya tetap juga tidak mau belajar untuk mengerti. Jadi hipotesa sementara saya mentok disitu, sebagian besar manusia yang melakukan ini melakukannya hanya atas dasar “ikut rame” saja. Tidak perlu jasa Uya Kuya–lah untuk menghipnotis dan memancing jujur tidaknya… Tidak ada yang mau jujur… Yahhhh jujur yang dimulai dari hati saja susah le, tugas Pak Jokowi leh arep  “Revolusi Mental” jannnn abuuuuotttt.

Kegelisahan yang saya tulis itu buat saya membuktikan satu hal yang dialami kita generasi muda yang sebentar lagi merayakan Ulang Tahuh Sumpah Pemuda yang ke 87 Tahun (disambung-sambungin aja lah), aiiiih nasionalis kaliii kau nakkkk. Apa itu? Kreatifitas kita untuk sekedar mengundang tawa dan “mencari sensasi” (katakanlah begitu) sudah sampai di taraf yang menyedihkan apalagi sesuatu yang garis lurus untuk terta urut melakukan revolusi bagi bangsa tercinta aihsadaphhhhh.  Ahhh sebenarnya tulisan ini tidak ada hubungannya sich sama Sumpah Pemuda, saya juga cuman nyambung-nyambungin saja biar pas sama judulnya, biar ndak wagu, dan tentunya biar keliatan pinter dikitlah.

Pernah menonton film “Flash Of Genius”, karya Marc Abraham, dengan Greg Kinnear sebagai pemeran utamanya. Sebuah kisah nyata tentang seseorang yang menuntut hak cipta atas karya yang “dicuri” oleh perusahaan mobil besar FORD. Dari durasi 119 menit, ada satu adegan yang membuat saya tertohok. 

Saat itu, dalam persidangan Robert Kearns mengambil salah satu novel karya Charles Dickens “The Tale Of  Two Cities”, dan membacakan sedikit bagian dalam buku tersebut, lalu cerdasnya dia bertanya “Apakah Charles Dickens, menemukan kata It, was, the, best dan time” Kearns kemudian menyimpulkan bahwa semua kalimat itu tercatat di sebuah kamus dan Charles Dickens tidak melakukan sesuatu hal yang baru.

Pusing? Aturlah pusing kalian dulu baru pahami analoginya. Begini konklusi dari Kearns “Sebuah temuan baru disusun berdasarkan temuan-temuan sebelumnya dan menjadi sesuatu dengan fungsi yang baru”. Voilaaaaa sesederhana itu khan memulai sesuatu yang baru. Tidak perlu berpikir untuk melakukan sesuatu yang wahhhh atau keceee dan kerennn banget, semua dimulai dari kita. “Start with men in the mirror” kata King of Pop.

Saya-pun tidak bisa berbicara banyak tentang kreatifitas, kretaifitas saya cukup dimulai diri sendiri.  Yoris Sebastian pernah bercerita tentang memulai sebuah kreatifitas kecil dalam bukunya “Oh My Godness : Buku Pintar Seorang Creative Junkies". Kreatifitas kecil bisa dimulai dari  memilih rute yang berbeda  tiap beberapa hari sekali ke kantor untuk mematikan kebosanan, atau style pakaian saya coba dipadu padankan setiap hari dengan pilihan yang tidak sebanyak para seleb itu. Dari situ semua berkembang perlahan, bukan memulai dengan "wahhhh bagus itu, besok aku bikin yang plek sama lahhhh". Nahhhh Easyyy right…?

Yah ini cuman tulisan ngehek dari orang kurang piknik yang potensial mengundang kalimat “Sinis banget sich lo”.  Jangan berharap solusi besar dari tulisan ini, lah tulisan ini juga cuman ungkapan hati saya, cuman "ikut-ikutan rame" versi saya, supaya ada tandingan lah buat fenomena makwow itu. Anggap saja saya nambah manas-manasi lah gitu.

So we all die young, are we?

Salam Pemuda…





Jumat, 09 Oktober 2015

Orasi Malam Pertama Bon Jovi, Untuk Sahabatku…


Dear sahabatku…

Saat malam ini aku menyelesaikan tulisan ini mungkin kamu sedang berlatih mengucapkan ijab qobul dengan maksimal, entah berapa kali yah aku tak tau lah. Yang jelas betapa perlunya kamu belajar menggucapkan, adalah bukti betapa kamu serius memulai cerita bahagia itu. Yah sudah anggap aja cerita dengan kajian teoritis yang tak dapat dipercaya ini sebagai pelengkap, cerita bahagiamu.

Kita memang pertama kali bercakap-cakap baru beberapa bulan lalu ditemani cuaca Surabaya yang malam itu tidak begitu menyenangkan, berangin dikala malam setelah sesiang penuh panas begitu semena-mena merajang kulitku yang tak terlalu terang ini.

Sedikit cerita tentang pasangan mengantar kita memulai percakapan “Ngalor ngidul” malam itu, sisanya filosofi sepakbola tim kesayangan kita yang kita bahas, lengkap dengan statistik dan alasan kenapa kita begitu fanatik dan sepakat, bahwa kita memang pantas buat jargon “Not Arogant Just Better”. Tapi dari sedikitnya porsentase cerita kita tentang pasangan hidup, cukuplah untuk membuatku mengambil kesimpulan, bahwa aku semakin perlu banyak belajar dan menjadikanmu salah satu panutan untuk semakin dalam dengan sebuah kata menjengkelkan bagi para lelaki “komitmen”.

Lewat kamu juga aku semakin setuju bahwa pepatah “Dunia terlalu sempit” benar adanya, calonmu ternyata orang yang sama-sama denganku mengumpulkan rupiah, dalam satu payung perusahaan. Beberapa bulan kemudian aku punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan calon pasangan hidup yang begitu kamu sayangi itu.

Sama seperti saat kita ngobrol, aku tidak punya banyak waktu, bercerita dengan wanita yang membuatmu rela melepaskan kesenangan masa mudamu, dan sekali lagi lewat obrolan yang cenderung garing dan agak aneh itu akupun menangkap satu hal, diapun bahagia dan rela melepas masa mudanya untuk masuk kedalam cerita “perkawinan”  yang buat sebagian orang membosankan dan menakutkan, denganmu lelaki yang ia pilih. Bagaimana ia sambil sedikit malu-malu bercerita tentang planning masa depan kalian, aiihhh luar biasa.

Sebagai ganti aku yang tak bisa hadir disana, untuk sekedar ikut berbahagia atau menemanimu bermain PES meredakan ketegangan, ijinkan aku bercerita tentang sesuatu. Jangan takut ataupun bingung, aku tak akan bercerita tentang pernikahan, aku bahkan belum cukup nyali untuk sampai kesana atau juga belum cukup beruntung punya kesempatan untuk belajar banyak sebelum  bisa menjalaninya, apalagi menceritakannya. Andaikan aku bercerita tentang tema itu, maka semua itu tak lebih dari cerita wagu dari makhluk gaib sepertiku.

Tapi setidaknya sebagai sahabat yang baik dan supaya terkesan mboiiisssss, ijinkan aku mengkutip sebuah musik dari legenda hebat rockstar untuk berorasi tentang tentang apa itu berumah tangga dari sudut pandang kejujuran inteletualku, lambemuuuu cepppp.  Yah Jangan berharap ceritaku diawali dari kutipan buku-buku sarat makna atau puisi cinta nan luar biasa dari Kahlil Gibran atau Sapardi Djoko Darmono yang ngehitz lewat Dian Sastro cs (Bro ayooo ngetwit #DianSastroForRI1 #SaveIndonesia, abaikan) aku cuman manusia kebanyakan gaya yang doyan bercerita segalanya lewat musik, lewat cerita-cerita para rockstar yang mereka puisikan lewat lirik dan alunan musik.

Sekarang ijinkan aku buat memilih salah satu lagu favoritku untuk mengantar cerita bahagiamu. Kenapa harus lagu dari manusia ini, yah dia adalah gambaran rockstar, yang menjalaninya hidupnya dengan Rock n Roll, tapi selalu pulang ke pelukan wanita yang sama,  yang ia jaga kesetiannya sejak SMA, seperti kata om-om Dance Company “Rockstar sayang istri”, Jon Bon Jovi.

Dari sekian lagunya yang luar biasa, aku pilihkan satu lagu dengan makna luar biasa ini sebagai pengantar hari bahagiamu kawan. Thank You For Loving Me. Lagu yang mereka lempar ke pasar, bukan pasar Remu atau pasar Entrop di tahun 2000, tahun dimana kita sedang senang-senangnya ngunyah coklat jago atau wafer Supermen, sambil menikmati masa-masa awal "Reformasi", saat jaman "Gimana masih enak jamanku to?, sudah berlalu hampir dua tahun.

Aku berharap kalian bisa duduk bersama menikmati lagu ini cukup dengan handphone dan satu headset yang kalian pakai berdua, sambil membaca ocehanku ini bersama-sama. Iya satu headset saja cukup, supaya kalian bisa duduk begitu erat dan berbagi alunan nada sebelum sama-sama duduk di sebuah kursi pelaminan, menerima ucapan selamat dari para tamu, di hari bahagia.

Mari Mulai

Bon Jovi memulai lagu ini dengan nuansa sweet ala rockstar yang aduh mak inyong arep mewek disik. Diawali dentingan piano David Bryan dan lentingan suara gitar Richie, Jhon memulai part awal lagu ini dengan lambat dan mendayu-dayu, entah apa yang dia bayangkan, bagi kalian berdua cukup bayangkan wajah satu sama lain yang akan sama-sama tersenyum bahagia di hari bersejarah kalian.

It's hard for me to say the things
I want to say sometimes

There's no one here but you and me

And that broken old street light


Lock the doors
We'll leave the world outside

All I've got to give to you

Are these five words tonight

Akhirnya kalian kalian memilih sama-sama menjalani hidup, saling menjaga dan mendoakan, sama-sama bersyukur dan merasa cukup untuk melengkapi satu sama lain. Akan ada sejuta gangguan dan kegaduhan yang harus kalian hadapi, ingat satu hal berisiknya manusia diluar sana hanya pelengkap sebuah perjalanan panjang, apalagi jika kelak kalian diberkahi tetangga yang doyan bergosip sambil sesekali sok manis didepan kalian, tapi masih tidak tahu malu buat meminta gula atau garam, yah just Lock the doors We'll leave the world outside.

Thank you for loving me

For being my eyes when I couldn't see for

Parting my lips when I couldn't breathe

Thank you for loving me
Thank you for loving me

Sampailah di chorus pertama bagian “mahal” di lagu ini. Masih dengan nada pelan yang ahhhh aku menuliskannya sambil setengah terharu malam ini.

Jangan pernah lupa ucapkan syukur untuk kehadiran satu sama lain, ucapkan terima kasih untuk “kerelaan” masing-masing merendahkan ego agar segalanya menjadi cukup, untuk turut berbagi dalam kalimat paling absurd di dunia bernama “Cinta”. Tak perlu aku jelaskan kenapa sebegitu absurdnya kata ini, kita sama-sama sering berdiskusi sebagai lelaki, tentang betapa uniknya arti kata ini, Cinta.

I never knew I had a dream
Until that dream was you

When I look into your eyes

The sky's a different blue

Part ini dimulai dengan tabuhan drum Tico Tores, dan format instrument lengkap, dengan suara string yang menegaskan nada dan lirik di lagu ini, nada dan lirik  yang menegaskan betapa lagu ini punya kekuatan, betapa cinta kalian punya kekuatan.

Mungkin jatuh cinta dan bertemu hanya sekedar hal biasa tentang hidup, menghidupi dan menghidup-hidupkan. Tapi saat kalian dipertemukan dalam sebuah perjalanan panjang dengan tema “pernikahan” itu adalah mimpi bahagia yang sama-sama kalian pupuk. Ada hitung-hitungan rumit semesta, bagaimana manusia bersuku Jawa dan Bugis justru bertemu di tanah surga bernama Papua, dan memulai segalanya disana bukankah itu mimpi indah yang menjadi nyata.

Cross my heart
I wear no disguise

If I tried, you'd make believe

That you believed my lies

Nikmati lagi bait ini baik-baik,  baru saja aku ceritakan tentang absurdnya cinta dan akhirnya dipart ini John kembali menegaskan betapa absurdnya cinta itu, betapa dalamnya makna cinta dalam sebuah keabsurdan. “Lintasi hatiku, aku tidak akan mencoba bersembunyi dan andaikan aku melakukan itu, kamupun tetap percaya akan kebohonganku”, menggelikan, tapi inilah cinta kawan.

Thank you for loving me
For being my eyes when I couldn't see

For parting my lips when I couldn't breathe

Thank you for loving me

Sesapi lebih dalam lagi bagian lirik ini, resapi pelan-pelan dan maknai dengan damai… dengan damai. Bagian chorus kedua ini semakin dilengkapi dengan nada yang tegas  jika dibandingkan dengan bagian pertama chorus saat suara serak Jhon hanya diantar dengan Piano dan lengkingan gitar. Nikmati bagian ini dan rasakan bahwa bagian ini adalah penegas  tentang “syukur” atas kehadiran satu sama lain.

Jadilah Pelengkap bagi satu sama lain kawan. “Menjadi mata saat aku akan melihat, jadilah bibir saat aku akan bernafas. Apa yang lebih bahagia saat pasangan kita melengkapi bagian hidup kita yang kurang bukan?.

You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out

If I was drowning you would part the sea

And risk your own life to rescue me, yeah

Ahhh iya ini bagian dimana kalian harus saling memahami dan menopang saat salah satu dari kalian sedang terpuruk, sedang jatuh atau hancur. Bukankah itu makna manusia menjadi satu, karena satu manusia sempurna hanya “mitos”, akhirnya kita hanya perlu mencari manusia setengah sempurna untuk menyempurnakan kita. Untuk membahagiakan kita dalam sebuah perjalan panjang.

Lock the doors
Leave the world outside

All I've got to give to you

Are these five words tonight

Thank you for loving me
For being my eyes oh, when I couldn't see

You parted my lips when I couldn't breathe

Thank you for loving me


When I couldn't fly
Oh, you gave me wings

You parted my lips when I couldn't breathe

Thank you for loving me
Thank you for loving me
Thank you for loving me

Oh for loving me

Nikmati bagian ini dengan senikmat mungkin kawan, ini hanya bagian pengulangan yang semakin mempertegas “Rasa Syukur” Atas hadirnya satu sama lain. Sampai akhirnya suara pelan John mengkahiri lirik dan diakhiri lengkingan gitar sebagai  penutup cerita yang bahagia.

Bayangkan bagaimana kalian akan menikmati sebuah cerita lucu dan sama-sama berpikir solusinya saat uang belanja kurang, atau harga susu dan bahan pokok yang semakin naik tidak terkontrol, atau ketika kalian sama-sama memutuskan untuk “mengkredit rumah” dari sebagian penghasilan.

Atau bayangkan bagaimana tangis seorang bayi yang pecah dirumah dan kalian kebingungan untuk menenangkannya, lalu mereka mulai tumbuh dewasa, dan kalian kebingungan melerai saat mereka berebut mainan.

Bagian-bagian yang dengan haqul yakin pasti akan datang, dan tidak ada cara lain selain turut serta memainkan peran sebagai sepasang manusia dewasa yang menikah, sepasang manusia dewasa yang akhirnya disematkan status sebagai orang tua.

Semoga di jaman saat super Junior semakin ngehitz dan dollar makin naik serta Tiongkok mulai melebarkan sayapnya menggeser Amerika sebagai negara super power, keluarga kalian akan tetap menjadi terang dan berkat  bagi sesama, sesulit apapun keadaannya.

Sampai menua dan renta bersama, saat anak-anak kalian telah memulai cerita bahagia dengan keluarga yang baru mereka mulai, sama seperti saat ini yang kalian lakukan, Sampai segala tugas kalian di dunia selesai.


Maafkan jika sepanjang tulisan ini kalian tidak menemukan sebuah pesan penuh makna sebagai cerita hidup yang bisa kalian jadikan bahan inspirasi, maaf jika aku gagal menjaga konsistensi untuk tidak “melawak dan nyeleneh” dalam tulisan ini, tapi jika tidak seperti ini maka aku baru saja memakai “topeng sok bijak” yang sekarang terlalu murah dijual, saat mencoba berbagi dengan kalian, sahabat luar biasaku.

Apapun itu, niatku hanya satu mendoakan kalian dengan cara paling maksimal agar perjalanan panjang  kalian menjadi manusia baru, menjadi lebih bermakna, dan buatmu Ken sahabatku, jaga baik-baik istri dan kelak anakmu sebagai wujud rasa syukur yang tidak berkesudahan.

Oh iya… Tolong bungkus (atau minimal fotokan) sayur sop dan ayam yang ada di resepsi pernikahan kalian, nasi gampanglah aku cari nanti. Paling tidak aku bisa ikut bersyukur lewat makanan itu. Dan iya… kalau ada acara lempar bunga seperti di film-film Hollywood itu, tolong diurungkan, simpan saja buat aku, atau jika prosesi itu terlalu Kebarat-baratan, tolong simpankan bunga pernak-pernik di mempelai wanita yang selalu berusaha dicuri tamu pria supaya segera ketularan rejeki “menikah’.

Dan yang terakhir jangan lupa berdoa sebelum Malam Pertama #ehhhh…

Semangat Ken dan Linda… #GGMU

Tabe'… 


Salam dari sahabatmu, Rockstar (Gagal) Ganteng Berkharisma… Oceph...

Fenomena Wagu Chef-Chefan



Stasiun swasta dengan lambang burung rajawali itu harus bertanggung jawab atas degradasi profesi “Chef”. Sekarang dedek-dedek gemez yang habis menggoreng tahu pakai minyak jelantah bekas, sudah punya hak buat memposting namanya dengen embel-embel “chef”, Tahu Sumedang ala chef Arianti Ingin dicintai selalu (Arianti Ingin dicintai selalu nama orang, silahkan percaya atau tidak).

Berkat acaranya Franc Roddam, yang diIndonesiakan, itulah sekumpulan manusia itu jadi merasa Chef adalah sebuah profesi icik kiwil, yang mudah didapat setelah menggoreng tahu, tanpa peduli seberapa maksimal proses fermentasi makanan teresbut (well memang ada yang peduli?). Sebentar, sejenak saya membayangkan Gordon Ramsay atau Christina Tosi dengan sedihnya meratapi CV masaknya yang sekarang banyak disaingi dedek dedek gemez itu, yah menggelikan bin menyedihkan.

Memang tidak perlu pendidikan khusus untuk mendapatkan gelar chef, bahkan buk’e kita yang sakbendino bertugas menjadi menteri kesejahteraan perut keluarga-pun punya hak menyandangnya, karena selain bertugas memasak kadang ibuk-ibuk itu punya cara kreatif membuat masakan baru, menyesuaikan budget rumah tangga dan kenaikan harga bahan pokok dipasar.

Akan tetapi menurut hemat saya (supaya terkesan resmi) yang memang kurang piknik ini, agak menggelikan jika fenomena wagu ini bertebaran dimedia sosial. Bahkan mogul kuliner Indonesia sekelas Bondan Winarno-pun menolak dipanggil chef, karena sadar beratnya embel-embel itu, atau salah satu rockstar kuliner Indonesia Rahung Nasution yang dalam salah satu wawancaranya  pernah bilang ” sebutan chef hanya layak disematkan kepada orang-orang yang bisa membuat kreasi menu makanan baru, bukan cuma membaca resep atau memasak makanan yang sudah menjadi tradisi”

Menurut sejuta refrensi buku saya, ehemmmm maksudnya hasil googling, (yah kita hidup dimana mbah ini jauh lebih hebat dari ensiklopedia yang volumenya cukup untuk digetok dan membuat amnesia), chef berasal dari serapan bahasa negaranya Samir Nasri sana, dari kata “chief”, yang artinya pemimpin. Dalam hal ini tentu saja pemimpin di dapur. Jangan tanya kenapa harus bahasa dari sana yang diserap Buat kami golongan “kelaparan” yang hanya bisa membedakan makanan kedalam dua kategori “enak dan enak banget”  yang  jelas makanan dengan harga terjangkau lebih dari cukup lah ketimbang pengen tau kenapa harus bahasa Perancis yang diserap dalam tata kuliner dunia, bukan Sierra Leone misalnya.

Maka dengan berat hati dalam opini  saya sebagai kelompok pengunyah segala yang kurang piknik ini, akan sangat terlihat wagu kalau dengan memasak saja tanpa memimpin sebuah tim dapur, segelintir manusia disekitar kita merasa punya hak buat nambahin embel-embel chef, setelah masak tahu sumedang tadi. 

Ahhh sudahlah ceph, tahu-tahu dia sendiri, wajan dan media sosial serta paket data untuk memposting itu juga punya mereka sendiri maka toh juga gag ngrasani kamu.

Aihhhh mungkin saya hanya insan manusia yang kebanyakan waktu selo, sampai-sampai perlu bercerita panjang lebar tentang fenomena, wagu ini. Toh pendapat saya yang keliatan seperti orang patah hati yang kurang piknik ini memang terkesan ngehek dan agak kurang kerjaan dan sangat tidak dapat dipertanggungjawabkan kajian teoritisnya, Matamu leee.

Tapi sebagaimana mereka punya hak memposting karya chef-chefannya itu saya juga punya hak dong buat ikut debat kusir tentang “pantas tidaknya” embel-embel chef itu ada. Laptop buat mengetik juga laptop saya sendiri (dikasih kantor sich) dan paket data juga punya saya sendiri (ini juga pakai fasilitas internet kantor sich). Saya cuman berusaha membagikan kejujuran intelektual saya, ngooook.


Salam...
Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise