Sabtu, 27 September 2014

Bakso...


Traveling is the best education. It teaches tolerance and understanding
Bert Trautmann

Saya yakin sebagian besar dari kita akan asing dengan nama Bert Trautman, ahhh saya tidak kaget bahkan mereka yang mengaku fans sejati Manchseter City saja sebagian besarnya pasti tidak mengenal nama ini. Setelah tau nama Bert Trautmann tanggapan berikutnya adalah bingung melihat saya mengkutip quotes legenda Manchester City itu tapi dengan post gambar Bakso. Yo Ben...

Sebenarnya saya pun baru mengenal nama ini saat membaca Buku Big Pang Theory milik Pangeran Siahaan. Tapi tak apalah, saya toh saya tetap terselamatkan karena tidak mangaku sebagai fans Manchester City.

Ahhhh sudahlah, semakin sinis saja mereka bakal mencap saya sensi karena perbedaan mencolok di papan klasmen musim kemaren. Asemmmm….

Cerita saya ini bukan ditujukan untuk bersinis ria terhadap fans atau glory huntersnya Manchester City. Quotes dari legenda mereka yang saya kutip diatas itulah yang akan saya bahas. Tentang traveling, tentang toleransi.

Jangan bayangkan saya akan bercerita tentang toleransi beragama yang sampai sekarang masih menjadi topic yang sama peliknya dengan kisruh kekalahan di Pilpres plus Pilkada masih ditambah lagi ribut-ribut RUU PILKADA tak langsung dari orang yang sama, iyaaaahhh Pak Wowo dkk. Urusan itu biar para ahli dan agamawan ataupun yang mengaku mengerti agama saja yang menjelaskannya, saya cukup bercerita tentang toleransi kebernaekaragaman selera nusantara saja, otal saya ra nyandak mau bahas begituan.

Sore itu, setelah ngobrol ngalor ngidul tentang pekerjaan, gaji dan bla bla bla bahasan apalagi yang lebih menarik ketimbang bermenye-menye tentang asmara dan akhirnya membahas soal makanan. Lalu dimulailah sebuah komedi yang membuat saya merasa perlu menertawakan, betapa lucunya statement teman saya sore itu.

Kebetulan sore itu yang kita bahasa adalah makanan merakyat bernama Bakso. Teman saya tadi mengeluarkan statement bahwa Bakso paling enak adalah di Bandung, duerrr kemudian saya tertawa dan berusaha menanyakan alasannya. Dan... jawabannya seperti agen MLM yang khatam menjelaskan, tentang sitem downline dan kapal pesiar, tetapi selalu kesulitan bercerita tentang kelebihan produknya. “Pokoknya bakso paling enak di bandung” begitu jawabnya dengan nada yah begitulah.

Saya kemudian tertawa sinis. Kemudian teringat sahabat saya lainya yang juga menyatakan bahwa bakso paling enak adalah di Atambua, waktu itu dia punya alasan yang yah kurang lebihnya sedikit masuk akal “Karena Atambua merupakan tempat peternakan sapi yang besar. Tetapi kalimat berikutnya yang membuat saya menjadi geli dan lucu, “Disana bakso tidak pake tepung sama sekali, daging semua”. Tolong jelaskan bagaimana bakso jadi-jadian itu bisa dibuat. Bagaimana mungkin daging bisa berbentuk bulat tanpa dicampur tepung, sedikitpun.

Lalu lucunya dimana? Tiap orang punya hak toh buat berpendapat. Tentu saja, tapi jika statement itu keluar dari mereka-mereka yang sepanjang hidupnya  memikiki cv tempat tinggal dan treveling  disitu-situ saja, seperti katak dalam tempurung. Homo Sapiens model begini agak menggelikan buat saya, mereka yang hanya tau tempat yang ditempati, lalu mencap jelek dunia diluar lebih jelek dari tempurung sempit dan kecil yang ditempati. Funny...

Kedua teman saya tadi masuk dalam kategori pribahasa itu Hampir seumur hidup mereka hanya dihabiskan di dua tempat yaitu tempat sekarang, kemudian Bandung dan Atambua sebagai tempat lahirnya. Traveling? Yah saya berulang kali mendengar cerita mereka yang mengeluh karena tidak sempat berlibur. Yah tak apalah transit saat naik kereta apai atau pesawat dihitung.

Bagaimana mungkin kita bisa menilai dengan jernih ketika refrensi kita sebagai dasar buat mengambil keputusan sesempit itu. Saya yakin teman-teman saya lainnya yang semodel akan dengan lantang bersuara Bakso paling enak di Medan atau Papua. Lucu. Kenapa tidak bilang Bakso paling enak ada di Tiongkok sana sebagai asal mula makanan ini.

Kemudian saya sadar,  refrensi  coto makasar, gudeg ataupun papeda sekalipun akan lebih enak di Bandung atau Atambua, jika memang refrensi traveling mereka yah hanya disitu . Mereka yang belum pernah menikmati Pizza langsung di negaranya Fransesco Totti akan dengan sombongnya merasa Pizza paling enak ada di kampung halamannya, lalu Federico Failla akan tertawa terbahak-bahak mendengar statement itu. Saya yakin tidak sedikit diantara kita memiliki status yang sama tapi sok tau tentang Makanan paling enak.

Masalah utamanya sebenarnya adalah soal selera, kadang selera di tempat asal kita-lah yang sesuai dengan selera yang kita harapkan. Kita tidak dapat memungkiri, makanan apapun saat berkuluturasi dengan selera lokal akan menyesuikan dengan lidah lokal, logikanya Makanan Padang yang aslinya pedas akan menjadi manis saat dijual di Jogja, tidak banyak yang mau mengambil resiko dengan bertahan pada citarasa asal, kemudian merugi. Memang tidak semua akan tetapi sebagian besarnya seperti itu, menurut saya.

Jika logikanya seperti yang saya ceritakan diatas kenapa kalimatnya tidak diubah dengan “Bakso yang sesuai selera saya yah di Bandung atau Atambua” beres, jadi tidak terkesan bahwa bakso di tempat lain itu tidak enak.

Mereka yang kebetulan membaca tulisan ini pasti akan berpikir bahwa saya hanya pengangguran yang kebanyakan waktu luang untuk berdebat masalah selera. Tapi percaya deh, bagaimana kita bisa menghargai kebernekaragaman suku bangsa, kalu refrensi urusan perut saja kita masih sombong dan angkuh untuk sekedar mengakuinya. Lebay memang kalau membandingkan toleransi kultural dengan toleransi keberanekaragaman makanan, tapi saya toh tetap percaya tentang itu.

Sering seringlah piknik, pecahkan sedikit tabungan untuk menikati keanekaragaman, tempat kita berpijak ini. Ketimbang menutup diri dan menjadikan Korea sebagai destinasi wisata, wisata operasi plastik. Bukan saya menjudge pemandangan disana tidak bagus (saya pernah mendapat oleh-oleh asli Korea dan melihat pemandangan alam Luar biasa disana), tapi saya berani bertaruh sebgain besar dari mereka yang menjadikan negara ini sebagai destinasi, pasti ingin melihat sekumpulan pria metroseksual berpipi tirus keluyuran sambil berucap “anang haseyo” atau “anang hermansyah”

Lalu saya ganggu sahabat saya tadi 

"Sudah pernah makan papeda"

"Sudah" jawabnya 
 "Pasti Papeda paling enak ada di Bandung yah" sembari tertawa sinis. 

Untung dia hanya terdiam sambil mesem, jika memang mereka menjawab iya itu bahkan komedi yang jauh lebih lucu ketimbang tradisi siram tepung di salah satu sitkom di televisi swasta itu. 



Sabtu, 13 September 2014

Dear You #Lovely... II

Anywhere you are, I am near

Anywhere you go, I'll be there

Anytime you whisper my name

You'll see


How every single promise I'll keep

'Cause what kind of guy would I be

If I was to leave

When you need me most?


What are words

If you really don't mean them when you say them?

What are words

If they're only for good times, then they're done?


When it's love

Yeah, you say them out loud

Those words, they never go away

They live on, even when we're gone


And I know an angel was sent

Just for me and I know I'm meant

To be where I am

And I'm gonna be


Standing right beside her tonight

And I'm gonna be by your side

I would never leave

When she needs me most


What are words

If you really don't mean them when you say them?

What are words

If they're only for good times, then they're done?


When it's love

Yeah, you say them out loud

Those words, they never go away

They live on, even when we're gone


Anywhere you are, I am near

Anywhere you go, I'll be there

And I'm gonna be here

Forever more


Every single promise I keep

'Cause what kind of guy would I be

If I was to leave

When you need me most?


I'm forever keeping my angel close



 Chris Medina - What Are Words Lyrics



Dear You, sayang...


Ahhh hari kesekian aku terbangun dan sadar, jadwalku hari ini bukan lagi menemanimu pergi ke kantor, dan menemani makan siang atau duduk menunggumu di kursi konsumen sembari memperhatikanmu dibalik meja teller.


Aku lupa hari ini, aku harus mengendarai motor melalui jalan padat dan ramai ala metropolis ke kantor, bukan lagi jalan dengan pemandangan gunung dan laut seperti disana.


Dan sore hari akupun harus kembali ke rumah melalui jalan yang sama, dengan kebisingan yang sama, ditemani senja, bukan lagi sunset merah yang kita habiskan bersama sembari memperhatikan anak kecil bertelanjang dada bermain air laut atau kapal nelayan yang baru saja hendak berangkat.


Ahhh

Aku rindu padamu #Lovely...






Lagu diatas diambil dari Link ini







Kopi Susu






Ingat...

Kita itu kopi susu...

Saat kopi disajikan hitam dan pekat, kopi tak  ubahnya racun delusional berbentuk minuman yang mampu memantik adrenalin tapi perlahan menggerogoti lambung dan sel saraf lainya.

Tetapi saat  Saat susu datang dan bersenyawa, kopi yang punya efek negatif mendapatkan partner untuk menyuntikan adrenalin tanpa perlu sepenuhnya merusak lambung dan sel saraf. Susu dan kopi sama-sama bersinergi membuka mata yang mengantuk dihadapan laporan yang menumpuk, atau sekedar menambah adrenalin bagi pecinta bola yang kebetulan sedang membuka mata, menanti tim kesayangannya berlaga.

Lalu apakah racun di kopi sepenuhnya hilang, atau lemak pada susu tak lagi menakutkan bagi diet obessed.

Tidak...

Di tiap tetesnya apapun itu, kopi akan tetap berpotensi merusak lambung atau sel saraf lainya, di tiap tetesnya susu tetap punya potensi membuat jarum timbangan berat badan menjadi pemandangan yang menakutkan.

Tapi tak peduli apapun itu, diantara segala  zat antah berantah yang tak aku pelajari semasa kuliah, penyebab naiknya asam lambung ataupun lemak yang bertambah, kopi susu adalah minuman sederhana penambah tenaga.

Tak perlu cafe yang makin menjamur dan susah disebutkan namanya untuk mencari-nya, bahkan kopi susu ada di warung pinggir jalan tempat aku menghabiskan senja mendengarkan orkestrasi klakson mobil dan motor yang beradu saat terjebak macet.

Lalu biarkan segala cerita misteri yang tak dapat kita pecah kan sama-sama mengendap seperti ampas yang ditinggalkan kopi susu. Kita bahkan hanya manusia yang kadang meninggalakan sebuah misteri kehidupan yang tak pernah terjawab sampai cerita kita didunia usai, sama dengan ampas minuman itu.

Sederhana, apapun itu akan tetap ada kelemahan yang berpotensi menyakitkan segala cerita kita, tapi diantara tiap kenikmatan sruputannya kita belajar saling memaknai cerita.

Dear You, #Lovely


Yaswar au kaku...

Minggu, 31 Agustus 2014

Dear You #Lovely...




Dear you...

Sesungguhnya aku mulai menulis ini dengan setengah menangis di sudut salah satu kafe di Bandara Sultan Hasanudin.

Entah apa yang ada dalam pikiran mereka lelaki berbadan besar dengan brewok yang agak lebat sesekali menyeka air mata tipis (yang sesungguhnya baru saja kutumpahkan dengan hebat dikamar mandi pesawat).

Enam hari terasa singkat yah, iya aku bahkan belum sempat berbagi cerita dengan adik-adik di Suprau seperti yang aku impikan dulu.

Ahhh sudahlah...

Kita cuman manusia, tidak ada kata puas bagi hasrat homo sapiens yang tak pernah mengenal kata cukup.
Lalu aku ingat-ingat lagi 6 hari bahagia yang baru saja kita lewati enam hari yang baru saja kita jalani untuk saling berbagi, sebelum akhirnya waktu juga yang memaksa kita untuk kembali ke dunia nyata.

Pagi itu saat baru saja tiba, aku setengah celingukan mencari kamu diantara para penjemput. Dan... Terjawab sudah kebingunganku.

"Su sampe kah, ketiduran aaaa"

Aku cuman tersenyum simpul setengah gemas membaca pesan singkat kamu itu, sambil membayangkan muka bantal yang ingin kucubit sepuasnya.

Sembari menunggu barang bawaan yang sedang diantar dari bagasi aku sudah menyusun reaksiku menyambut kamu. Waktu itu, kalau kamu berpikir betapa hangatnya tatapan atau romantisnya genggaman tanganku, aku bahkan sudah berlatih terlebih dulu, Jangan ketawa, remember apa yang bisa diharapkan dari orang yang bahkan say Love You dan Sayang saja harus berlatih berulang kali.

Lalu munculah kamu dengan diujung bandara dengan kaos hijau bertuliskan “YES” yang selama ini sering aku ceritakan tentang angan-angan untuk mengucapkan cinta dan dijawab dengan kaos itu.

Canggung yah... iya... tapi aku tak peduli secepat mungkin kugenggam tanganmu dan seketika merasa nyaman. Waktu itu, aku sengaja mengulur-ulur waktu supaya bisa lebih lama. Kamu pasti merasa aneh diantara mata yang sayu karena menahan ngantuk semalaman aku masih saja mencari-cari alasan saat diajak ke rumah Kak Anis, iya itu modus.

Kemudian dengan setengah mengantuk siang itu aku menepati janji menemani kamu mengunjungi kerabat. Ahhh sebenarny aku-pun sudah lama merindukan tradisi cari kaleng itu.

First day... Dan kamu sudah mengajaku menikmati sorong dari ujung ke ujung. Dari pemandangan pantai yang aduhai sampi gunung-gunung yang harus dilewati dengan kewaspadaan penuh. Aku rindu dengan pemandangan ini, disana hanya gedung-gedung pencakar langit dan tingginya jalan layang yang kulewati setiap hari. Iya... ndeso bin katrok, aku lebih nyaman melihat kota pesisir yang masih menyajikan pemandangan gunung dan laut, ketimbang gedung bertingkat dan mall.

Ingat tidak, kamu bahkan langsung menepati janjimu, "besok-besok kalau pas lagi jalan, sa ketiduran jangan kaget yah".Setelah kegirangan memotret langit sore, tiba-tiba kamu sudah tidak menyahut saat kupanggil, sambil setengah menengok ahhh... Kamu sudah mulai nyenyak dijok belakang motor, kebingungan dan takut sembari memegang kedua tanganmu aku mengejar rombongan yang mulai jauh. diantara rasa was-was sebenarnya aku menikmati momen itu. Kapan lagi dipeluk tanpa toki. Seharian itu saja sudah tak terhitung berapa kali tanganmu mampir di pipi dan kepala saat berusaha kupeluk. Iya... modus, lagi.

Lalu mulailah komedi aneh saat aku berusaha mereka ulang untuk “menembak” hahahaha. Serasa jadi anak SMA hari itu. Setengah mengantuk dan sesekali tertidur kamu menjawab sambil tertawa-tawa. Iya... sore itu kita sama-sama berusaha menepati janji masing-masing.

Sayang...

Aku rindu berbaring dipangkuanmu, sambil sesekali menatap mata kamu diantara kantuk yang menyerang. Iya... jujur saja selama disana, aku jarang tidur dimalam hari, rasa ingin cepat bertemu lagi diesok hari dan ingin menikmati hari yang lebih panjang di Sorong jadi alasannya, aku merasa tidur menjadi aktifitas yang hanya memotong waktu. Aku ingin terjaga selama mungkin agar merasa waktu tidak begitu cepat berlalu

Kamu... sambil sesekali menepuk-nepuk pipi, sambil sesekali memegang rambut, kadang-kadang sambil mencubit hidung kamu pasti bilang "ini brewoknya dirapiin". Aku tau kamu keram iya bobot 80 kg pasti sukses membuat peredaran tidak lancar dikedua pangkal pahamu, tetapi layaknya orang sabar kamu hanya berbisik pelan "bangun dulu" sembari membiarkan rasa kesemutan hilang kamu setengah menggeruutu, bahhhh berat sampe  tanpa peduli setelah itu aku lanjutkan lagi tidur di tempat ternyaman didunia bagiku. Saatnya kelak saat jarak tidak lagi menjadi pemisah, jangan kaget aku sering sekali melakukan itu.

Oh iya Sunset...

Menghabiskan waktu menjelang gelap semacam ritual wajib yang tak pernah kita lewatkan. Batere hape serasa dua kali lebih cepat drop dari biasanya, fitur kamera dihapemu dan hapeku seakan tidak berhenti bernafas untuk melaksanakan tugasnya mengabadikan momen yang sebenarnya sama-sama tidak ingin kita sudahi.

Kadang diantara momen-momen kecantikan alam itu, aku tak takut dan malu bercerita tentang keanehan tentang aib dan apa saja yang kusimpan rapat-rapat. Terima Kasih... sudah menjadi pendengar yang baik.

Terima kasih buat jalan-jalan siang dijalan mendaki...

Sembari sesekali mengingatkan untuk menepi karena ada kendaraan,kamu mendorongku dari belakang karena sadar aku sudah mulai kehabisan nafas. Sembari sesekali berhenti, karena aku mulai kehabisan nafas kamu berikan senyum manis melap keringat sambil berbicara "sudah mau sampai kog". Sembari kau rapikan kaos yang sesekali tersingkap. kamu menepuk2 perut sambil bilang "biar kurus".

Aku akan selalu merindukan momen itu semua, selalu. Tangan lembutmu, saat merapikan rambut yang lebih mirip sapu ijuk, saat merapikan bajuku yang tersingkap (iya aku cuek banget ya sama penampilan) atau saat menepuk-nepuk pipi.

Aku akan selalu merindukan saat-saat bisa berbaring di kedua pangkuanmu atau sekedar menyadarkan kepala di  bahmu dan menghirup aroma Pariz Hilton yang kamu pakai. Ahhh apa saja yang aku lakukan bersamamu akan selalu kurindukan.

Dear You #Lovely...

I Already Miss You...


Selasa, 08 Juli 2014

Pendukung Brazil... Romansa Masa Kecil



Bagi saya, sepakbola itu soal romansa dan cerita tentang anak manusia. Tsahhhh...

Tapi memang begitu kenyataannya, saya tidak begitu tertarik atau lebih tepatnya tidak “pantas” bercerita tentang statistik sepakbola. Berapa rasio gol atau berapa  presentasi sundulan atau presentasi gol dimenit-menit tertentu dan bla bla bla lain yang memerlukan ketelitan dan perhatian.
Pekerjaan saya yang ah gitulah dan otak saya cetek tidak cocok dipadukan untuk merepresentasikan sepakbola dalam angka dan rasio.

Saya juga berpendapat mereka-mereka yang “mahir berbicara” rasio akhirnya jadi merasa pintar dan merasa apa yang mereka hitungkan  lebih benar dari yang lain. Akhirnya debat-debat di media sosial semacam jadi pembuktian "ini nih yang aku catat lebih benar".

Tapi sekali lagi saya tidak akan teralalu mempersalahkan tipe “maniak bola” yang seperti itu, seperti yang saya ceritakan disini, saya lebih benci dengan mereka yang sok mengerti dan tidak punya pengakuan apa-apa yang sibuk ribut dan mencela di media sosial. Golongan yang kemudian saya berikan julukan untuk Hooligan alay.

Oke kembali ke topik...

Karena Sepakbola itu soal romansa dan cerita anak manusia, maka saya akan selalu ingat nostalgia saat tangis Bebeto pecah di bangku cadangan di suatu malam di bulan Juli 1998. Malam itu Stade France menjadi saksi keperkasaan sang Dewa bernama Zidane saat mengoyak gawang Claudio Tafarel dua kali lewat sundulan. Masih belum... Manuel Petit melengkapi derita pendukung Brazil malam itu. Ahhh iya saya juga ikut menangis sendu kala itu. 

Setelah bertahun-tahun kemudian, saat internet mudah untuk diakses baru saya membaca tentang konspirasi bahwa Final kala itu sengaja "dikorbankan" Brazil untuk gelar mudah di edisi berikutnya dan hadiah untuk menyelenggarakan [utaran final 2014, kejadian sebenarnya entahlah.

Pesta sepakbola dunia edisi 1998 adalah kali pertama saya jatuh cinta dengan sepakbola. Sebelum-sebelumnya saya lebih sering menangis saat ayah saya memutar televisi untuk menonton siaran bola.

Anak usia SD kelas tiga seperti saya mendadak jadi hitz  tentang sepakbola. Usia saya yang baru cukup untuk menikmati sepakbola dari cerita orang saja, membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mendukung Brazil. 

Kala itu di Jayapura, ada tiga tim besar yang memiliki basis pendukung besar. Ketiga tim itu adalah Jerman, Belanda, dan Brazil. Jadilah saya mendukung tim ketiga, karena diracuni sahabat-sahabat kecil saya kala itu.

Tiap kali bermain bola kami selalu berdiskusi untuk memerenakan tokoh siapa.

"Sa Ronaldo e".
"Oceph nanti ko Aldair saja"
Iyah dari kecilpun saya lebih sering bermain sebagai pemain belakang, (posisi yang menurut sebagian besar kurang populer) jadilah nama Aldair yang sering saya perankan kala itu.

Brazil yang kala itu dilatih salah satu legendanya Mario Zagalo, datang dengan senjata lengkap. Nama-nama macam Ronaldo, Rivaldo, Bebeto, dan Roberto Carlos masih gres-gresnya ditelinga kita. Saat itu ban kapten masih dipegang oleh Carlos Dungga yang berkarir di klub Jubilo Iwata (Saat itu Jepang sedang getol-getolnya memakai marquee player di liganya)

Brazil sukses memulai laga awal dengan baik, kemenangan yang sebenarnya tidak terlalu mudah. Waktu itu saya perlu menunggu sampai menit ke 74  untuk menyaksikan kemenangan perdana Brazil di penyisihan grup, gol yang datang dari pemain Skotlandia sendiri Tom Boyd. Setelah itu Brazil sukses membekap Maroko, dan akhirnya harus puas menalan kekalahan saat bersua jagoan-jagoan Skandinavia, Norwegia. Brazil harus menelan pil pahit saat gol penalty Rekdal menutup laga dengan skor tipis 1-2.

Setelah penyisihan grup yang tidak begitu mulus, berturut-turut Brazil sukses memulangkan Marcelo Salas dan Ivan Zamorano Cs (Chile) di perdelapan final dan  Denmark perempat final. Setelah pertandingan lumayan berat melawan Denmark (Brazil harus ketinggalan dua kali sebelum akhirnya Rivaldo membawa Seleaco ke semifinal dengan gol ketiganya), Pertandingan yang tak kalah berat menanti di semifinal. Lawannya Oranje yang kala itu dikomandoi De Boer bersaudara, Kluivert, dan Flying Deutchman Dennis Bergkamp.

Bertemu Juara tanpa mahkota di semifinal, semacam takdir. Saat itu dua kutub sepakbola paling atraktif harus beradu. Brazil dengan jogo bonitonya dan Belanda dengan Tottal Footbalnya. Pertandingan yang terasa seperti "tanpa nafas", 2x45 menit plus dua kali extra time terasa  begitu cepat. 

Kedua tim seperti tidak peduli dengan pertahanan, sepertinya kedua tim semacam sepakat untuk bicara “beknya kita suruh tidur saja, biar kita sama-sama menyarang”, walaupun toh akhirnya skor di pertandingan normal tetap seri 1-1. Brazil kala itu unggul lebih dulu dengan gol Ronaldo baru kemudian disamakan lewat si jangkung Kluivert. Buat saya pertandingan itu termasuk pertandingan terbaik dalam sejarah Piala Dunia yang mulai saya ikuti dari edisi 1998.

Lalu sampailah kita di final. Dan... dengan segala hormat ijinkan saya untuk tidak menceritan cerita lebih detail tentang malam “sedih” itu, twist saya diawal tadi sekiranya cukup untuk menggambarkan betapa sedihnya saya malam itu.

2014...

Sejauh ini Brazil sudah sampai di semifinal. Dengan segala keterbatasannya, mereka tetaplah tim spesial atas nama romansa didalam hati saya. 

Praktis ini adalah tahun terbaik mereka setelah juara 2002 lewat dua gol si Kuncung. Edisi 2006 di Jerman saya harus tertunduk lesu saat gol tunggal Henry memulangkan kami di perempat final, dua penyihir Brazil saat itu Kaka dan Ronaldinho tidak mampu membuat banyak keajaiban. Sementara edisi 2010 saya harus puas melihat gol Sneijder membalikan keadaan setelah unggul lewat Robinho. 

Nb : saya saat itu sedang diopname karena DB, dan langsung membanting tempat makanan saat menyaksikannya dari kamar

Oke... mari kita lihat cerita di 2014 

Skenario apa yang lebih buruk dari kehilangan dua nafas utama di pertandingan semifinal melawan tim yang lagi gres-gresnya tahun ini. Ditambah fakta Kekasih saya pendukung setia Jerman (yahhhh tak apalah empat tahun sekali kami berdebat soal tim idola, sisanya toh kami sama-sama pendukung United). 

Brazil tidak punya kartu as lain selain Neymar. Akhirnya saya hanya bisa berharap lahirnya Garincha baru di tim edisi 2014 ini. Brazil pernah mengalami hal serupa, saat Pele harus mengakhiri Piala Dunia 1962 lebih cepat, Garincha yang membawa terbang Brazil di perjalanan sisanya).

Apapaun skenario terburuknya toh saya tetap bertahan atas nama nostalgia, tiap kali pesta emapt tahun ini berlangsung. 

Saya akan selalu ingat Saat edisi 2002, saat tangis bahagia saya ikut mengantarkan Cafu yang berdiri gagah mengangkat Trophy kelima. Kemudian, ditahun-tahun berikutnya saya tetap kembali mendukung tim yang harus puas finish di perempat final.
Malam ini saya kan tetap mendukung selecao, apapun hasilnya apapun skenarionya.




Beberapa jam sebelum Kick Off Brazil Vs Jerman


Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise